MEMPERTANYAKAN ETIKA PEJABAT BIROKRASI PEMERINTAH [Bagian Pertama]


Tulisan ini saya berencana posting beberapa waktu yang lalu, namun karena beberapa kesibukkan yang sehingga baru bisa posting sekarang.
Kejadian yang saya ulas dalam postingan ini merupakan kejadian yang benar – benar terjadi didepan mata saya, dan saya menyaksikan dengan mataku sendiri.
Jadi begini kejadiannya. Sebulan yang lalu [Pertengahan Januari], saya hendak berangkat ke Jayapura untuk suatu urusan. Setelah saya lapor diri di loket dan mendapat boarding pass, sambil menunggu penerbangan pesawat balik dari Wamena – Dekai yang selanjutnya ke Sentani, saya naik ke lantai atas gedung terminal Bandar udara Nop Goliat Dekai – Yahukimo untuk membeli rokok [Maklum, saya termasuk perokok paling aktif].

Bandar Udara Nop Goliat Dekai Yahukimo
Bandara Dekai - Dok. James
*
Sedikit gambaran untuk ruang gedung terminal. Jadi, Gedung terminal Dekai – Yahukimo terdiri dari 2 [dua] lantai. Di lantai bawa, pintu pertama adalah ruang keberangkatan. Kemudian beberapa pintu di sebelahnya di bagian tengah merupakan loket pembelian tiket pesawat untuk maskapai penerbangan yang melayani rute dari dan ke Dekai – Wamena – Sentani dan sebaliknya. Pintu paling ujung merupakan ruang kedatangan. Tangga menuju lantai atas gedung berada ditengah diantara beberapa pintu  loket tiket. Sedangkan lantai atas seluruhnya merupakan cafĂ© bandara yang menyediakan minuman dan makanan ringan.
Kembali ke topik postingan. Sesampainya di lantai atas, saya memesan secangkir kopi dan membeli satu bungkus rokok Surya. Setelah saya bayar, saya duduk dekat jendela kaca yang menghadap ke arah lapangan terbang, sambil membelakangi susunan kursi dan meja yang digunakan para pengunjung untuk duduk sambil makan dan minum. Selang beberapa menit, masuk salah satu pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah [SKPD] dengan rombongan dan mereka pun langsung memesan kopi sembari duduk di deretan kursi yang tersusun rapi.
Sesaat setelah duduk, si pejabat tersebut menghardik dan memaki si pelayan kafe tersebut tanpa alasan yang saya belum ketahui secara pasti. “Eh…. Ko tau sa kah tidak? Ko tau sa ini siapa? Ko pu boss siapa?”  [Eh… Kamu tahu saya atau tidak? Kamu tahu saya ini siapa? Kamu punya atasan siapa?], itulah beberapa pertanyaan hardikan yang menghujani si pelayan bertubi – tubi. Terakhir dia bilang, mau kerja itu layani yang benar saja, seolah – olah dia sendiri kerja dengan baik dan benar.
Atas pertanyaan orang sombong tersebut, ketika dia bertanya saya jawab dalam hati : Eh,… ko tau sa kah tidak? Memangnya ko siapa jadi dia harus tau?, Kamu tau sa ini siapa? Memangnya ko siapa jadi? Ko pu boss siapa? Ko mau tau untuk apa?
Sambil menjawab dalam hati, saya merenung dan menyadari beberapa hal atas sikap sombong dan angkuh pejabat birokrat Pemerintah yang tidak punya etika tersebut. Beberapa hal yang saya menyadarkan saya adalah bahwa :
1.       Orang  kecil [seperti pelayan kafe tersebut], dengan tingginya mobilitas kesibukan dalam melayani para pembeli, kadang tidak ikut berita tentang orang sombong dan angkuh seperti itu.
2.       Orang kecil merupakan orang – orang hebat yang kerja keras hanya untuk sesuap nasi untuk menghidupi keluarga.
Bagi saya secara pribadi, salud sekali dengan orang – orang yang dianggap kecil dan para pekerja keras yang tidak mengharapkan belas kasihan orang. Para pejabat [PNS], merupakan para pemalas yang tidak beruntung, yang biaya hidupnya ditanggung oleh Negara dengan membiayai hidup mereka setiap bulan yang mereka terima dan menyebut dengan gaji.
Sebagai pejabat birokrasi Pemerintah, sikap sopan santun mutlak ditunjukkan kepada masyarakat umum, supaya sikap sopan santun mereka tidak perlu dipertanyakan lagi.



0 Response to "MEMPERTANYAKAN ETIKA PEJABAT BIROKRASI PEMERINTAH [Bagian Pertama]"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel