POLITIK OMONG KOSONG ALA NEGARA DEMOKRASI - James Personal Blog's

POLITIK OMONG KOSONG ALA NEGARA DEMOKRASI

Akhir- akhir ini panggung politik republik ini tampil ibarat pementasan sebuah drama. Tontonan sebuah tragedi ini segera berakhir, kain panggung pentas ditutup, menanti drama baru yang penuh gelak tawa dan canda ria para politikus. Lampu- lampu yang padam itu segera dinyalakan lagi. Situasi yang tadinya gelap gulita, tiba- tiba menjadi terang benderang, dan para pelawak sandiwara Politik pun segera beraksi diatas panggung, mengocok perut penonton. Drama komedi penuh sensasi. Ya, sekadar menghilangkan kepenatan, kebosanan selama sekian waktu. Para penonton berteriak histeris, bersuara, memberi yel- yel support. Dengan riang merajut asa dan harapan baru. Setelah lama mata sakit, urat nadi seakan putus, semua berjalan serba raba- raba di tengah kegelapan.
Politik.! Negara Demokrasi yang gila
Demokrasi Gila atau Democrazy [James Editor]

Politik yang seharusnya berbobot dengan keprihatinan nasib negara dan rakyat, ternyata tampil dengan kenes entertaining, luaran dan murahan. Bagaimana tidak? DPR yang notabene adalah kepanjangan tangan dari rakyat untuk menyuarakan aspirasi rakyat itu, tersiar kabar korupsi? DPR yang notabene lembaga pergulatan politik rakyat yang seharusnya tahan kritik dan pandai mawas diri itu, malah kebakaran jenggot karena dikritik sebagai lembaga terkorup?

Belum lagi pernyataan- pernyataan semboyan para politikus kita. Presiden Republik ini yang sudah terpilih untuk periode kedua bersama kabinetnya mencanangkan satu program yang bernama Program kerja 100 hari dan lain- lain. Mengapa kita mesti terjerumus kedalam perang semboyan? Apa bedanya semua semboyan yang diusung para politikus kita? Apakah program 100 hari itu bisa dapat menyelesaikan semua masalah yang terjadi di republic ini? Apa bedanya program 100 hari dengan jangka waktu 5 tahun yang nanti setelah 100 hari ini? Dilihat dari realitas keamanan dan kesejahteraan rakyat, semua semboyan ini sama omong kosongnya. Soalnya, segudang semboyan para politikus di republic ini di dengungkan dan kita dengar, toh nasib rakyat tetap pahit dan menderita.

Para politikus di Republik ini mungkin memang hakikatnya adalah “Sekumpulan pakar iklan dan serakah, terutama serakah dalam menarik perhatian”, jadi mereka tak ubahnya seorang Artis sebabnya yang mereka jual bukanlah kecantikan atau ketampanan, tapi ke-omong kosongan yang bisa membujuk rakyat. Politikus memang insan yang sulit mengaca diri, atau kalau mereka mau berkaca, yang mereka lihat hanyalah kecantikan, ketampanan dan kebaikannya saja. Pertanyaanya adalah, kemana wajah mereka yang sesungguhnya, yang juga buruk dan busuk?

Jelas, negara ini dipenuhi dengan politikus ‘murahan’ yang berwatak seperti diatas ini. Dan dalam kehidupan demokrasi, politikus- politikus seperti diatas ini adalah kepanjangan tangan dari “kekuatan- kekuatan gelap”, yang pada akhirnya membahayakan keselamatan demokrasi itu sendiri dan rakyat.

Maklum, demokrasi adalah buatan manusia, yang memang bisa bersalah, dan pada kodratnya suka serakah. Dengan kata lain, demokrasi juga bisa menjadi lahan subur yang melahirkan dan menciptakan politikus- politikus yang bermoral bejat. Oleh karena itu, makin kita merasa hidup dialam demokrasi, kita seharusnya pandai mawas diri, mengontrol dan mengkritisi tingkah laku para politikus seperti diatas. Tapi sangat di sayangkan, dalam perkembangannya, para politikus kita takut di kritisi sehingga membatasi kebebasan* rakyat dengan berbagai cara. Padahal, sesungguhnya dalam sebuah Negara yang menganut paham demokrasi, kritik adalah sesuatu hal yang wajar, kritik adalah bumbu- bumbu yang menghidupkan demokrasi itu agar demokrasi itu terlihat tetap hidup.

Dalam Negara demokrasi kekuasaan terbesar terletak pada rakyat. Negara bertanggung untuk melindungi kebebasan rakyat. Dengan demikian, keputusan Negara adalah keputusan rakyat. Pemerintah hanya menjalankan keputusan rakyat, karena pemerintah dipilih dari rakyat, oleh rakyat, dan bekerja untuk kepentingan rakyat dengan menerima upah yang setimpal dengan bobot kerjanya.


0 Response to "POLITIK OMONG KOSONG ALA NEGARA DEMOKRASI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel