MAMBERAMO, ANTARA BERKAT DAN KUTUKAN

Rim raya Mamberamo - Papua
Foto : Sungai Mamberamo - [Ist]
Ada sebuah pulau di kawasan timur Indonesia. Pulau itu mirip seekor burung. Di negeri itu, pulau itulah yang duluan diterangi sinar matahari, sesudah itu barulah pulau- pulau yang lain. Selain banyak rawa, danau, telaga dan anak- anak sungai, ada juga dua sungai besar di pulau tadi. Sungai yang mengalir dari utara ke selatan namanya Mamberamo.

Disana di Mamberamo, hutannya cukup lebat, banyak rawa- rawa, untuk melaluinya harus perlu keterampilan, agar tidak ditelan hidup- hidup oleh rawa dan buaya. Kekerasan alam lingkungan di mata  masyarakat penghuni Mamberamo adalah Sekolah tempat ia dapat menimba ilmu. Dari daun- daun, tanah dan debu, ia mulai belajar menulis. Dari suara burung, jangkrik dan binatang melata ia mulai belajar membaca dan meramal.

Pernah terjadi suatu pagi yang cerah, tiga ekor burung kakatua raja terbang diatas kampong dari arah barat ke timur. Tua- tua adat dalam setiap suku tahu pasti bahwa tidak lama lagi, akan dating tiga orang perkasa yang akan mengusir mereka dari kampung. Itulah arti sebuah berita yang disampaikan oleh tiga ekor burung kakatua raja itu.

Manusia seakan terbius, penghuni hutan Mamberamo itu menjadi lesu. Mereka sangat yakin bahwa burung- burung dan binatang lainnya tidak pernah membohongi mereka. Itu pasti. Setiap kepala suku tarik suara menyuruh warga kampung untuk bersiap, laki- laki siapkan busur dan anak panah, perempuan siapkan makanan dan kayu bakar. Anjing berburu mereka diberi makan sekenyang- kenyangnya. Api tidak boleh padam.

Seminggu kemidua, suara aneh mulai terdengar mengikuti arah terbangnya ketiga burung kakatua raja beberapa hari sebelumnya. Suara aneh demikian memperkuat keyakinan orang kampung terhadap pesan awasan yang telah diterima lewat ketiga ekor burung beberapa waktu sebelumnya. Laki- laki keluar rumah dengan pakaian perangnya, lengkap denganbusur dan anak panah.

Namun yang muncul adalah sebuah benda aneh yang terbang melayang berbeda dari burung kakatua raja yang pernah mereka lihat. Semua kembali masuk rumah lalu mengintip lewat celah- celah dinding rumah. Benda unik (Helikopter) itu lalu mendarat di tengah kampung. Hanya sang kepala suku yang berani keluar, dengan gaya kedua tangan di ketiak. Itupun terpaksa karena, tiga ekor anjing telah terkapar kena tembakan penumpang benda unik tadi. Binatang peliharaan seperti anjing dan babi, bagi masyarakat tidak ada bedanya dengan dirinya sendiri; sebab itu sebatang rokok yang ditawarkan pihak pendatang tadi tidak digubris sang kepala suku tadi.

Pendatang baru tadi terus merayu kepala suku dengan benda- benda lain, namun satupun tidak diterimanya. Apa yang terjadi? “Dasar orang udik, ditawarkan barang bagus malah bengong, ngawur”. Ungkap pendatang baru itu, menghina kepala suku tadi. Senjata- senjata dibersihkan, niat tetap dilakukan.

Manusia yang tadinya di cap sebagai udik itu, ayam- ayam betina mereka yang sedang mengeram, induknya di usir tinggalkan telurnya dan orang- orang tadi mengambil telur dengan suka- suka tanpa merasa malu sedikitpun. Ayam- ayam jago, yang mencari makan di pinggir kemah dipancing dengan sisa makanan lalu dibidiknya untuk dimakan. Sebelum itu, sudah ratusan ayam jago telah dijerat untuk dibawah ke kota.

Pendatang- pendatang baru itupun tiada hari tanpa mengancam gadis- gadis kampung. Maklum bahwa pendatang hidup hanya untuk mencari uang, alkohol dan seks dengan cara apapun.

Tummmmm,,,,,,,,” Sebutir peluru ditembakkan ke langit seorang perempuan muda yang sedang membersihkan  hasil kebunnya, di sungai kaget dan tercebur di lekukkan oleh anak sungai. Satu persatu para pendatang tadi menggilir gadis kampung itu hingga tak bernyawa. Korban lalu di buang ke sungai yang deras. Mayat gadis tak berdosa lalu hanyut mengikuti arus entah ke mana. Mulut senjata terus mendentum. Di tengah malam, anjing yang mencari sisa makanan ke pinggir kemah mereka tetap tak ada jejak kembali. Sebulan kemudian orang- orang pendatang tadi pulang dengan pesawat penuh kulit buaya, burung cenderawasih, ayam jago, kayu gaharu, dan sebagian tambang yang bercampur tanah.

Di jaman modern ini, manusia yang kurang mandi, bau keringat, rambut keriting dan lingkar, hidung berlobang, dan kakinya melebar seperti daun singkong  dianggap makhluk aneh. Manusia kota yang hidup serba modern, penganut agama yang taat dan setia, kadang pura- pura member horma, sambil buang ludah dan menutup hidung “Jorok”, katanya.

Itulah perilaku orang- orang pendatang yang mengaku modern. Setelah mengikuti pendidikan tinggi, kadang ia menganggap dirinya lebih beradab dari sesamanya. Menjadi orang pintar baginya adalah segala- galanya. Penghuni negeri itu (Mamberamo) yang tadinya hanya tahu bahwa semua manusia, dunia, pasti sama seperti mereka yaitu : Punya rambut yang keriting, hidung berlobang, kaki melebar, makan sagu bakar, minum air kali, pelihara anjing, babi, ayam dan berdansa dengan anak- anak kecil di saat purnama tiba.

Kepala suku mereka  tidur dalam tidurnya, nenek moyang mereka datang menjelaskan kesan orang- orang pendatang itu kepadanya :
 Mereka bilang kulit kamu hitam,
 Mereka bilang rambut keriting,
 Mereka bilang hidung kamu berlobang,
Mereka bilang kamu bau keringat,
Mereka bilang kamu tidak tahu mandi,
Mereka bilang kamu bodoh,
Mereka bilang gigi kamu kuning,
Mereka bilang kamu babi,
Mereka bilang kamu anjing,
Mereka bilang kamu kaskado
Mereka bilang kamu telanjang
Mereka bilang kamu kotor,
Mereka bilang kamu hitam badaki
Mereka bilang kamu orang hitam,
Mereka bilang kamu busuk.

Kini terbalik. Kekotoran, bau keringat, hidung berlobang, koteka dan rumbai- rumbai orang kampung itu, menjadi milyaran rupiah, bagi keuntungan orang- orang pendatang yang mengaku beradab dan bersih, modern itu. Bagai sekuntum bunga anggrek kribo, bau wangi anggrek yang tadinya tidak sedap itu, sampai ke hidung para penguasa negeri di kota- kota besar. Potensi alam milik orang- orang kecil itu mulai dibicarakan dalam hotel- hotel berbintang, Konfrensi Tingkat Tinggi, Seminar, rapat, surat kabar radio dan televisi. Tanpa merasa malu sedikitpun.

Untunglah ada pulau Papua, bisa menampung sebagian ‘makhluk’ yang ditendang dari pulau lainnya di Indonesia. Katanya, ini pembangunan, padahal suku asli papua tidak pernah pergi menggeser suku asli lain di luar pulau Papua, dari tanah warisannya di negeri Papua. Itu sejarah. ***


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "MAMBERAMO, ANTARA BERKAT DAN KUTUKAN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel