KEBERADAAN MALL DAN NASIB PASAR TRADISIONAL

Mall merupakan tempat nongkrong anak gaul alias ABG (Anak Baru Gede, Anak Babe Gue, Atas Bawah Gede, he,,,,he,,,,he,,,,). Disinilah tempat berkumpulnya dunia konsumeris dan hedonis. Segala macam produk masa kini telah hadir dalam gedung yang berukuran cukup luas ini.
Keberadaan Mall dan nasib Pasar tradisional mama Papua
Pasar Mama - Mama Papua Di Gelael Jayapura [Dok. Pribadi]

Mall, sebagaimana yang dilansir “Mbah Wiki”, memiliki arti sebagai "tempat yang luas dalam satu bangunan yang terdiri dari berbagai macam toko, baik supermarket, game online/ timezone, toko buku, toko kaset, toko pakaian, kantin atau cafe untuk nongkrong, toko ATK (Alat Tulis Kantor), dan konter- konter elektronik (Hp, tape, dll)". Biasanya didukung pula oleh satu atau dua bahkan lebih department store yang dikelilingi oleh tempat parkir. Semua produk konsumeris bahkan hedonis dikemas dengan praktis dalam sebuah mall. Inilah surga kapitalis yang nyata di depan mata kita.

Namun lebih lanjut, dalam pembahasan ini saya akan mengkaji sedikit tentang mall dan kaitannya dengan keberadaan pasar- pasar tradisional. Pasar tradisional merupakan pusat perekonomian yang dianggap sebagai mata pencaharian masyarakat kelas menengah ke bawah. Dengan adanya pasar tradisional, proses pemberdayaan terhadap masyarakat kecil berjalan dengan baik. Namun bagaimana nasibnya ketika mall dan pusat- pusat perbelanjaan modern hadir di tengah- tengah mereka.

Saya ingin mengutip catatan pinggir yang ditulis oleh Goenawan Mohamad tentang mall. Hari itu kisah GM (panggilan akrab Goenawan Mohamad), saya duduk minum kopi di salah satu cafĂ© mall di Jakarta. Tiba- tiba saya merasa bodoh, ketika saya ingat, pada suatu hari di Tokyo, di tepi jalan meriah di Ginza, teman saya seorang arsitek Jepang, menunjukkan kepada saya mesin jajanan yang menawarkan Coca- cola dan keripik kentang. “Tahukah tuan,?” Tanyanya. “Jumlah tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jenis ini di seluruh Jepang?” saya menggeleng dan ia menjawab,”jumlahnya lebih besar ketimbang jumlah tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh. (Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, Edisi 07- 13 Mei 2007).

Teman GM diatas tentu berbicara tentang ketimpangan, membayangkan rumah- rumah sakit yang harus menyelamatkan nyawa manusia di sebuah negeri miskin tapi tak punya daya sebanyak kedua tempat yang dikisahkan diatas. GM pun membayangkan berapa kilowatt energi yang di telan oleh sebuah mall di setiap kota besar di Indonesia dan lebih khusus di Jakarta, dimana dia duduk minum kopi dengan tenang. Mungkin saja akan tahu seberapa timpang jumlah itu dibandingkan dengan seluruh tenaga listrik buat sebuah daerah/ kabupaten nun jauh di pedalaman Papua (GM, Majalah Tempo, 07- 13 Mei 2007). Sebuah refleksi yang cukup tajam tentang kehadiran mall yang telah menjadi penindas bagi pasar- pasar tradisional. Baca : GLOBALISASI ATAU GOMBALISASI

Salah seorang mama pedagang sayuran di emperan Gelael Jayapura mengeluhkan bahwa sekarang ini jumlah pembeli sangat berkurang, harga bersaing ketat, mama- mama pedagang hanya bisa mengambil untung tipis asal sayuran bisa terjual.

Salah seorang mama pedagang Papua di pasar Phraa Sentani mengeluh karena seharian hanya satu – dua orang saja yang mengunjungi losmen mama- mama Papua. ( Di pasar sentani ini mama- mama Papua menjual dagangan di deretan terakhir, bahkan terkesan ada kesengajaan dalam penempatan mama- mama pedagang Papua ini).

Keadaan sepi pembeli ini dialami juga oleh beberapa pedagang mama- mama Papua di Pasar Youtefa dan Hamadi. Diatas saya sudah jelaskan keluhan mama- mama Papua di pasar tradisional, tetapi yang lebih memprihatinkan terjadi di ibu kota Negara Republik Indonesia ini, yaitu di Jakarta. Bagaimana tidak, beberapa pedagang di pasar Kramat djati, Kenari Mas, Senen, Kebayoran lama, pasar Jumat, bahkan Pasar minggu mengeluhkan hal yang sama. Rata- rata dari mereka mengeluhkan berkurangnya pengunjung/ pembeli di pasar tradisional.

Sebuah liputan media elektronik bahkan memberitakan bahwa pasar modern yang biasa juga disebut dengan pasar Waralaba telah mematikan pasar tradisional, dan itu telah terjadi di banyak kota yang pemerintahnya memberi kemudahan bagi menjamurnya pasar modern.

Dari beberapa kisah diatas, dapat diketahui bahwa pasar tradisional memiliki peran yang sangat vital bagi perkembangan ekonomi masyarakat bawah. Karena di pasar tradisional lah perputaran ekonomi bisa terjadi. Di pasar tradisional ini, uang beredar di banyak tangan, tertuju dan tersimpan di banyak saku. Rantai perpindahannya lebih panjang, sehingga kelipatan perputaran yang panjang itu berdampak pada pergerakan perekonomian bagi kota dan daerah. Berbeda dengan pasar modern besar (Baca : Mall), semua uang yang dibelanjakan tersedot hanya pada segelintir penerima yang disebut dengan Kasir. Efeknya bagi perputaran lebih pendek. Karena itu, sesungguhnya tidak terlalu membawa dampak pada perputaran sektor lain selain dirinya.

Teori ini merupakan teori ekonomi makro sederhana, dimana uang disatu daerah rantai perpindahannya lebih panjang, maka uang tersebut akan mampu membawa perputaran ekonomi lebih tinggi bagi daerah tersebut.Sebaliknya, bila perputarannya pendek, maka tidak akan memberi dampak kemajuan ekonomi. LIHAT : Dampak Otonomi Khusus Terhadap Lingkungan Hidup Di Papua

Selain itu, keberadaan mall sangat terkait dengan kebijakan pemerintah setempat, baik daerah maupun kota. Sebenarnya tidak melihat pada dampak kehadiran mall terhadap pasar tradisional, melainkan lebih melihat pada keuntungan pendapat daerah yang bersumber dari pajak tanah dan bangunan, pembagian retribusi parkir khusus, pajak- pajak restoran, pajak pendapatan, pajak reklame, dan jenis pembagian pendapatan lainnya. Itulah, bila pemimpin berwatak kapitalis dan memberikan perizinan untuk pendirian mall, karena mereka juga mau merasakan keuntungan selain pembayaran pajak, ada tambahan lain selain balas jasa atas semua kebijakan yang memuluskan jalan kapitalis. Jika semuanya dijumlahkan, maka akan sangat untung besar bagi kontribusi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Inilah yang disebut oleh salah seorang budayawan sekaligus aktivis sebagai pola pikir pragmatis yang bersumber dari ideologi Developmentalis. Sebuah ideologi yang menganggap bahwa mall sebagai tujuan dari kemajuan pembangunan. Bagi mereka yang menolak kemajuan dianggap kolot, terbelakang, apatis, manusia tertinggal, sehingga dipaksakan dengan kekuatan “gelap” untuk menerima sesuatu yang tujuan akhirnya adalah untuk menggandakan kapital ini.

Mungkin saya salah bila menyalahkan keberadaan mall secara berlebihan, karena dengan adanya mall, para penganggur menjadi memiliki pekerjaan. Tetapi mereka selalu bekerja dibawah tekanan atas dalih mengejar omset. Jika meminjam istilah Marx, dengan adanya para pekerja tersebut mall telah melahirkan ketimpangan sosial antara pemilik modal (kapitalis) dan pekerja keras alias bawahan. Sebenarnya mereka tidak mau kerja tanpa henti seperti robot, tetapi apalah daya daripada tidak bisa hidup.

Kita tidak tahu, dibalik bangunan mall yang megah, dihiasi parfum ala Paris, pakaian koboi ala Amerika, dan makanan berkelas Eropa, tersimpan kepedihan dari para pekerja keras yang sebenarnya mereka tidak mencicipi hidangan yang disajikan di mall tersebut.

Disinilah letak sikap kritis seseorang diterapkan ketika melihat ketimpangan sosial yang telah diciptakan oleh mall untuk menindas dan melenyapkan keberadaan eksistensi pasar tradisional. Dengan analisis kritis Marxis, maka tujuan dari tulisan ini ingin menciptakan kehidupan yang sejahtera atas dasar pemberdayaan di masyarakat pasar tradisional.

Pemerintah jangan hanya mengumbar sejumlah janji untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil dan menengah dengan sejumlah agenda yang bagus- bagus hitam diatas putih tetapi dalam implementasinya gagal total alias nol dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan ini. Untuk itu dibutuhkan partisipasi dan keseriusan pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian rakyat kecil dan dalam upaya mempertahankan pasar tradisional sebagai pusat perekonomian masyarakat. Satu hal lagi yang harus diperhatikan adalah kebersihan dan keindahan pasar tradisional, sehingga pengunjung tidak jijik dengan pasar tradisional tetapi termanjakan untuk selalu datang.

Melawan Sekalipun Tertawan.

0 Response to "KEBERADAAN MALL DAN NASIB PASAR TRADISIONAL"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel