PUISI PERLAWANAN (Disadur Dari Puisi Wiji Thukul)

                                                     
Gambar Milik Google

MENGEJAR MIMPI
Ku coba membuka lembaran baru 
Dimana tak ada tangan yang mengekangku 
Tak ada rantai yang mengikatku 
Tak ada norma yang melarangku
Aku bebas disini 
Tanahku sendiri 
Pulauku seutuhnya 

Datanglah..
Ku undang kalian semua 
Merayakan kebebasan kita 
Dari dunia nyata yang gelap gulita 

Berbisiklah..
Menjeritlah..
Menarilah.. 
Bercintalah..
Menangislah...
Berdukalah 
Keluarkan semua sesak 
Karena disini hanya kebebasan... 
Dan salam untuk semua yang mencintai kebebasan.




MERDEKA
Keluar dari kegelapan kutemukan titik terang 
Paru-paruku kembali mengembang 
Terlepas dari belenggu zaman 
Tubuhku meluncur mengikuti arus 
Membabat perbedaan-perbedaan 
Melucuti jeruji-jeruji marjinalisasi 
Yang selama ini telah memenjarakanku 
Lega, akhirnya, kutemukan juga kata merdeka 

Kusentuh cahaya kebebasan 
Kurangkai huruf demi huruf menjadi kata 
Kata-kataku meluncur deras di antara batu-batu cadas 
Kudaki gedung-gedung pencakar langit 
Kulumat wajah-wajah sinis penuh kumis 
Kakiku terus melangkah, melintasi sekat-sekat 
Menghancurkan dominasi yang dibangun oleh 
Serdadu-serdadu yang merasa perkasa 
Keperkasaan bukan melulu otot-otot yang besar 
Kekuatan bukan melulu milik tubuh yang kekar 
Kekuasaan bukan melulu lahir dari makhluk berzakar 

Ingin kusentuh terus cahaya kebebasan 
Agar sinarnya tetap menyala 
Menerangi bumiku yang lama pincang 
Menyinari wajah perempuan-perempuan 
Yang tak kenal lelah mencari pengakuan 
Demi satu kata “MERDEKA”



KEBEBASAN YANG KU TAWARKAN
Aku tak bisa menawarkan kebahagiaan di rumahku ini 
Aku hanya bisa memberi kebebasan 
Yang mungkin akan membawakan kebahagiaan untukmu 
Bergabunglah bersamaku 
Dan bersama pujangga lainnya 
Tak ada yang kan mencerca 
'ku 'kan menyambutmu dengan tangan terbuka 
Ada persahabatan yang kutawarkan untukmu 
Itupun bila kau mau 
Senang bila kau merasa nyaman disini 
Berbaringlah 
Menarilah 
Tertawalah 
Bebaskan jiwa yang terkekang 
Karena jiwa bebasmu menghidupkan pulauku.




TENTANG HARMONI KEBEBASAN DAN KEDAMAIAN
“Terbanglah wahai kebebasan 
Bersama angin dan burung-burung camar 
Di langit biru yang melambai 
Dan terus mengepak melantunkan dendang dan salam rindu 

Di tanah itu, 
Pucuk-pucuk pinus mulai bersemi mekar 
Dan bersinar, ketika mentari pagi menyapa mawar-mawar merah di taman kota 
Yang penuh harapan dan kedamaian 

Ketika aku menoleh ke belakang, 
Di senja yang temaram itu, 
Di kejauhan, sang surya bergeser perlahan ke peraduan. 
Menyapa , 
Memberi salam datangnya bulan dan bintang 
Yang bersinar di malam yang hening 
Dalam kebesaran jagad raya kita 

 Kekuasaan Sang Khalik yang luar biasa, 
Ketika siang berganti malam 
Ketika keteraturan galaksi dan alam semesta berjalan berkelanjutan 
 Tatanan 
 Harmoni 
 Keteraturan 
 Jagad besar kita 

 Kalau boleh kukabarkan kepada sebuah jaman yang belum datang 
Alangkah indahnya kebebasan 
Alangkah mulianya kedamaian 
Yang hidup teduh bersama harmoni dan keteraturan 

Keniscayaan alam semesta 
Keniscayaan kehidupan kita semua”




PILIHAN KEBEBASAN
Kebebasan memilih 
Telah kauajukan aku ke sini 
Meyakinkan akalku mengerti 
Makna diri. 
Tapi bagaimana 
Perjalanan panjang lorong-lorong bersilang 
Sedang pergikah aku atau pulang? 
Jalan ini katamu jalan semalam 
Tapi likunya berganti 
Dan sungai beralih haluan 
Aku jugalah kurang sedia 
Memahami perubahan. 
Biarlah aku di sini 
Berteduh mengeluh di bayang kebosanan 
Sambil menghitung waktu lepasku 
Oleh kebebasan. 

By : Rahman Shaari



MIMPI
Aku pemimpi, maka tugasku adalah bermimp.. 
Indah dan suram mimpiku tetap kuhadapi, 
Darah dan dahaga adalah lumrah dalam perjuangan 
Airmata dan penantian adalah penghiasnya… 
Aku pulang…. 
Hari ini sebuah mimpi coba diwujudkan… 
Aku berdoa….semoga Allah yang Maha Esa memilihku utk tugas ini. 
Ahhh,,,,,,, aku sudah terjaga, mari wujudkan berjuang.



SEJARAH
Sejarah kelam masa lalu itu kini menghampiriku, 
Menuntut darah juang ku. 
Sebagai pewaris tunggal masa lalu 
Aku beku, diam, berpikir menjadi begitu kelam 
Sejarah masih membingungkan di negeri ini.




UNTUK RU
Sejuk benar engkau hari ini 
Seperti hari-hari biasa di bulan-bulan lalu 
Tapi kau ingkar janji tuk menerima sebuah pemberian ku 
Sebuah Roman Zainuddin dan Hayati 
Aku diam terpaku di ruang tunggu 
Kau terus pura-pura tidak tahu 
Membisu dalam ruang mu itu 
Padahal kita sudah berjanji agar aku memberimu Hikayat anak rantau pedih hatinya itu 
Mungkin itu kisahku atau pula kisahmu 
Dan mungkin pula bukan kisah kita sama sekali 
Tapi Novel itu tentang setia, sebuah harapan segala doa 
Apakah kau tidak berkenaan dengan sikapku 
Entah aku tak tahu 
Ru Novel Buya itu untukmu, Janjiku


ORANG MISKIN BERAK DI KALI
Orang miskin berak di kali 
Sejurus kemudian aku maki-maki republik ini 
Orang miskin mati di pasar 
Aku kutuki pemimpin yang lupa diri 
Pengemis bingung mencari nasi 
Di ranjang sampah presiden kita bergudang-gudang makanan bekas resepsi 
Penganggur bunuh diri 
Anak menteri mudah cari rejeki 
Aku tak tahu harus bicara apa lagi 
Pemimpin lupa diri 
Rakyat sepertiku hanya bisa memaki 
Perut kosong belum terisi 
Hampa nian hidup ini 
Oh,,,,,,,, tuan-tuan tanah di atas sana 
Sudah lupakah tuan keringat kami yang tuan peras 
Ibu-ibu kami tuan paksa bangun pagi 
Anak negeri tuan beri julukan bodoh dan pemalas 
Sedangkan tuan sibuk ongkang-ongkang kaki 
Kemana lagi aku pergi mencari sesuap rasa hati 
Padahal teman sejati tak kutemui 
Sendiri memperjuangkan hal-hal yang tak pasti 
Untuk sebuah harapan dalam hati 
Rasa cinta kepada ibu bangsaku 
Orang miskin masih berak di kali.



BODOH
Sudah dari dulu aku sadar, aku bodoh dalam hal ini. 
Tapi masih juga ku telusuri harapan-harapan kosong 
Bukankah chairil sudah katakan; tak sepadan 
Persetan kataku kemudian 
Tapi hanya dengan menghitung lembab di dinding, tak lama 
Aku baru tahu betapa ampuh chairil 
Bodoh, keledai pun tak sebegitunya 
Hati menutupi pikiran 
Rasa mengelabui kebenaran 
Fakta adalah segalanya 
Begitu juga apa yang ku ungkapkan padamu 
Betapa cintanya aku pada senyummu.


PUISI “SOE HOK GIE”
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa,, 
Pada suatu ketika yg tlah lama kita ketahui,, 
Apakah kau masih slembut dahulu,, 
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap,, 
Sambil membenarkan letak leher kemeja ku,, 
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih,, 
Lembah pandalawangi,,
 Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram,, 
Meresapi belaian angin yg menjadi dingin,, 
Apakah kau masih membelai ku semesra dahulu,, 
Ketika ku dekap…kau dekaplah lebih mesra,,lebih dekat,, 
Apakah kau masih akan berkata,,ku dengar degap jantung mu,, 
KITA BEGITU BERBEDA DALAM SEMUA…KECUALI DALAM CINTA. 

 (Puisi yg dibacakan nicholas ”gie” saputra pada OST Film Gie)


PUISI BUAT SANG DEMONSTRAN
Sejauh mana kita telah bertakbir 
Untuk meruntuhkan yg lalim 
Berangkulan bahu, 
Bersatu padu hari demi hari 
Menjaga hasrat hati melindungi tubuh Ibu Pertiwi 
Tidak dapat kita hitung jauhnya jalan perjuangan 
Bersama-sama meniti dengan sepatu kumal 
Dari tempat-tempat sepi hingga hotel-hotel berbintang… 
Namun waktu harus berlalu memisahkan arah tuju 
Tapi masih pada matahari yang sama, 
 tujuan yang ingin kita gapai 
Maka titik persimpangan kan selalu mempertemukan 
Untuk saling mengingatkan dan berbagi… 
Ini hanya dinamika dari dimensi hidup… 
Begitu kata orang bijak… 
Maka raihlah yang patut untuk kita raih…. 
Maka untukmu sang demonstran, 
Sahabatku..lagu lama masih ku nyanyikan… 

“Ayo rapatkan barisan, 
Satu komando, 
Satu tujuan, 
Genggam jarimu lalu kepalkan sebagai simbol perlawanan”



RENUNGAN KU SEORANG
Dalam renungan ku 
Aku ini sendiri 
Diombang-ambing tekad dan ambisi 
Padahal perahu ku didayung ke tengah atau menepi 
Atas kehendak bukan badan diri 
Dalam renungan ku sorang 
Terhenyak lalu berang 
Tak ku temukan tempat berpegang 
Kau adalah biduan yg pernah ku kira tempat bersandar 
Namun kau hilang 
Ditimbun oleh kasta mu 
Belum lagi keindahanmu 
Sudah! ku tutup lagi buku, perjalan menjari teman sejati…. 
Dalam renungan ku sorang…..



NYAMUK KOTA
Berdenging-denging 
Mengganggu tidur 
Sudah tiga hari 
Tak jemu-jemu 
Iblis penghisap darah kecil tak tahu diri 
Sudah coba ku keluarkan jurus biasa 
Tapi apa daya 
Mereka beda 
Nyamuk ibu kota 
Lebih cepat bergeraknya, gesit, susah dibantai 
Aku kesal, bangun, cari sendal, merangsek mencari kedai 
Tapi tak ada disekita rumah, sialan
Ondeh mandeh
Terpaksa tidur-tidur ayam, tidur iya lelap tiada 
Kuputuskan tidur di kantor lusa 
Setelah itu tunggu balasanku 
Untuk mu nyamuk kota 
Dendam kesumat seorang anak kampung 
Cuiiih awas kau


REVOLUSI
Siapa yang paling kuat mengukuhkan kakinya di muka bumi 
Dialah yang bertahan 
Jangan mundur sedetikpun kawan 
Rakyat tak sudi engkau khianati 
Negara ini masih mencari jati diri 
Tapi tidak kalian 
Para pejuang sejati 
Revolusi ini sampai mati 
Selesaikan yang terabaikan 
Siapa rela?
 Ikut dalam dibarisan 
Yang kuncun segeralah lari pulang 
Karena ini pastilah berdarah-darah 
Sebab itulah takdirnya


KHIANAT
Taukah kau 
Qabil 
Dulu juga berkhianat karenanya 
Jadi aku tak heran bila… 
Pun dirimu ter perdaya fisik semata 
Lalu membunuhku dengan diam… 
Tapi tahukah engkau juga 
Aku sudah memaafkanmu dalam senyap…. 
Walau aku berkepundan dalam sedih 
Namun ku bisa tersenyum
Ternyata kamu cuma segitu… 
Berkata seolah-olah… 
Nyatanya cuma olah-olah kata… 
Suatu saat… 
Yakinku… 
Kesungguhan kan membuktikan… 
Pasti terbukti… 
Nikmatilah cintamu hari ini… 
Aku jujur saja tak mendoakan kau bahagia… 
Tapi juga sangat tak rela kau menderita… 
Khianatmu diruangku 
Bersetubuh dengan tipuan 
Makasih… 
Membuatku paham…
Dan lebam dengan penderitaan…



TAK MINUM KOPI MALAM INI
Malam aku ingin tidur 
Tak bisa 
Kau tetap hadir 
Padahal ku tak ngopi malam ini 
Hanya 3 gelas sepanjang siang tadi 

Masalahmu masalahku 
Kuterbawa jika kau gundah 
Resah mutualisme 
Novel puthut tak membantu lagi
Aku hilang akal 
Lupa dan tersesat 

Menjelajah rindu nan kutahan 
Mungkin ku harus lelap 
Tapi aku tak bisa tidur 
Padahal ku tak ngopi malam ini 
Hanya 3 gelas sepanjang siang tadi



EKSISTENSIMU
Eksistensimu 
Apakah kau benar-benar ada 
Atau hanya jalan fungsi otakku saja 
Satu kali kupikir kau hanya imajiner 
Kadang kau hadir…lebih sering kau pergi 
Kalau begitu 
Otakku tak berjalan seimbang 
Hatiku berkhianat…ia membuatmu eksis 
Kalau begitu kau akan selalu disini 
Di hati 
Pengkhianatan yang terlalu 
Membuatku menunggu kehadiran materiilmu 
Padahal kau hanya imajinasi 
Princess….



DI REDAM
Aku menepi 
Di sudut ini 
Memberi ruang 
'tuk bahagiamu 
Tetaplah jauh 
Membantu ku akhiri 
Tetapi masih jua kau mengitari 
Memberi bayang yang mau kulupakan 
Kutiadakan… 
Tega sekali, luka disobek kembali 
Hati remuk diredamkan 
Perih diasamkan 
Apa maumu 
Kau meminta akhiri 
Perkara debu kau gunungkan 
Canda kau darahkan 
Tega sekali membiarkanku memandangimu hari-hari 
Membuka pintu untuk ditutupi 
Tega sekali…membiarkanku mati diregang api 
Rasaku sendiri… 
Tega sekali..



MENEROPONG MALAM
Malam 
Kosong 
Sepi 
Tempat ku berkabut dengan buku-buku lama
Mari perjuangkan yang hilang 
Gelapkan seperti malam
Usah dikenang 
Bahkan ketika pulang 
Ke depan.. 
Kau akan tahu betapa dalam… 
Meneropong malam.. 
Kelam tak berkesudahan… 
Kau, dia..adalah pagi dan siang 
Dan aku ditakdirkan menjadi malam.. 
Meneropong malam…
Gelap dan sia-sia…



K.O.Y.A.C
Apakah yang menyebabkan duniaku berwarna 
Apa nan membuatku tak peduli pendapat dunia 
Apakah yang memengaruhiku menikmati muram durja 
Apa nan membulatkan tekadku untuk mengejar mimpi-mimpi 
Kamu…jawabku 
Tapi kau tak sudi apalagi peduli 
Ruang segala ruang… 
Sudilah kutempati apa yang awal dan apa nan akhir 
Kamulah yang awal dan tak akan pernah berakhir 
Di ruang ini 
Kembali jangan pergi 
Karena kepergian tak akan pernah kembali 
Rancu langkahku karena jujur jiwaku 
Ubah polahku karena begitulah rindu menipu 
Siapa sudi merajut hati nan pilu 
Kalau bukan engkau 
Jawabku… 
Kembali jangan pergi 
Karena menanti adalah suatu hal yang menyakitkan hati 
Apa yang menyebabkanmu begini 
Kalau bukan aku tempat segala khilaf berlabuh



MEMOAR YANG HILANG
Siapa yang meminta menyimpan sekian lama… 
Sudah kau tanam. 
Kemudian tumbuh 
Kembang 
Lalu hilang.





BACA JUGA : SERAT NUSWANTORO

0 Response to "PUISI PERLAWANAN (Disadur Dari Puisi Wiji Thukul)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel