FENOMENA BERAGAM PENCARIAN TUHAN - James Personal Blog's

FENOMENA BERAGAM PENCARIAN TUHAN

PENGANTAR

Hal yang lazim berlaku dalam agama adalah sejak lahir ide – ide agama atau etika telah ditanamkan dalam pikiran kita oleh orangtua dan sanak keluarga kita. Oleh karena itu, kita biasanya akan mengikuti standar – standar agama orangtua dan kakek – nenek kita. Agama sudah hampir menjadi tradisi keluarga. Apa hasil dari proses itu? Dalam banyak kasus orang lain memilihkan agama bagi kita. Hal ini tentu saja berkaitan dengan dimana dan kapan kita dilahirkan. Atau, seperti dinayatakan oleh sejarawan Arnold Toynbee, ketaatan seseorang pada kepercayaan tertentu sering ditentukan oleh “Lokasi geografis tempat ia dilahirkan yang bersifat kebetulan”.

Apakah masuk akal untuk beranggapan bahwa agama yang telah ditentukan pada saat seseorang lahir pasti merupakan kebenaran? Jika ‘saya’ dilahirkan di Italia, kemungkinan ‘saya’ akan dibesarkan sebagai seorang Katolik. Jika ‘saya’ dilahirkan di India, mungkin secara otomatis ‘saya’ akan beragama Hindu, atau jika ‘saya’ berasal dari Punjab, ‘saya’ akan menjadi Sikh. Jika orangtua ‘saya’ berasal dari Pakistan, ‘saya’ tentu menjadi seorang Muslim. Jika ‘saya’ dilahirkan di suatu negara Komunis beberapa dasawarsa lalu, ‘saya’ kemungkinan tidak mempunyai pilihan selain dibesarkan sebagai seorang Ateis.

Jika anggapan tersebut merupakan konsep yang diikuti selama ribuan tahun, banyak dari antara umat manusia seharusnya masih mempraktikkan Samanisme primitif dan sistem ibadah kuno yang berkaitan dengan kesuburan, dengan dasar pemikiran bahwa ‘apa yang cukup baik bagi nenek moyang saya tentu cukup baik bagi saya’. BACA : ASAL USUL AGAMA

Agama.! Pencarian Agama dan Agama yang ada di Indonesia
Beragam Pencarian Agama [James Editor]




RAGAM PENCARIAN

Tidak soal di manapun seseorang tinggal, pasti sudah melihat sendiri betapa agama memengaruhi kehidupan jutaan orang tanpa kecuali. Di negara yang mayoritas penduduknya Hindu, nampak terlihat orang yang melakukan Puja, yaitu upacara memberikan sesaji kepada Dewa – Dewi. Sesaji itu berupa kelapa, bunga – bungaan, dan buah – buahan. Seorang imam akan menaruh sebintik pigmen merah atau kuning, tilak, di dahi para penganut. Jutaan orang tiap tahun juga berkumpul di sungai Gangga untuk disucikan dengan airnya.

Di negara Katolik, akan terlihat orang yang berdoa di Gereja dan Katedral sambil memegang salib atau Rosario. Manik – manik Rosario digunakan untuk menghitung doa yang diucapkan sebagai pemujaan kepada Maria. Dan kita tidak sulit mengenali para Biarawati dan imam dari jubah hitam mereka yang khas.

Di negara Protestan, ada banyak Kapel dan Gereja. Pada hari Minggu jemaatnya akan mengenakan pakaian paling bagus yang mereka miliki dan bersekutu untuk menyanyikan himne dan mendengarkan khotbah. Seringkali pendeta mereka mengenakan jas hitam dan kerah kependetaan yang khas.

Di negara Islam, akan terdengar suara para Muazim, orang yang menyerukan adzan dari menara lima kali sehari, memanggil umat yang saleh untuk sholat atau sembahyang. Al – quran adalah kitab suci mereka. Menurut kepercayaan Islam, kitab ini diwahyukan oleh Allah dan disampaikan kepada Nabi Muhamad melalui malaikat Jibril pada abad ke – 7 Masehi.

Di jalan – jalan negara beragama Buddha, kita dapat melihat para Biksu atau Biarawan yang mengenakan jubah berwarna kuning – jingga, hitam atau merah, sebagai tanda kesalehan. Kuil – kuil kuno dengan patung Buddhanya yang dipajang dengan sikap yang tenang merupakan bukti bahwa agama Buddha sudah ada sejak zaman dulu.

Shinto, agama utama di Jepang mewarnai kehidupan sehari – hari berikut kuil keluarga dan persembahan bagi para leluhur. Orang Jepang tidak segan berdoa memohonkan hal – hal duniawi, bahkan keberhasilan dalam ujian Sekolah.

Apa yang diperlihatkan oleh begitu banyak ragam pengabdian agama di seluruh dunia? Di lain pihak, ada jutaan orang yang tidak beragama atau tidak percaya takhayul agama. Mereka ini, oleh orang beragama disebut dengan Ateis atau Agnostik. Lihat Juga : YESUS, SANG GURU REVOLUSIONER YANG SOSIALIS.!


SENTIMEN AGAMA

Dengan begitu banyaknya agama di suatu dunia yang makin lama makin kecil karena semakin cepatnya perjalanan dan komunikasi, pengaruh dari beragam kepercayaan dirasakan seluas dunia, tidak soal kita suka atau tidak suka. Kemarahan masyarakat yang berkobar pada tahun 1989 atas buku The Satanic Verses [Ayat – ayat Setan], karangan seseorang yang disebut orang “Muslim Murtad” merupakan bukti yang jelas betapa sentimen agama dapat menampakkan diri dalam skala dunia. Ada seruan dari pemimpin Islam agar buku tersebut dilarang dan bahkan pengarangnya dihukum mati. Apa yang membuat orang – orang bereaksi begitu berapi – api terhadap masalah agama?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita perlu mengetahui latar belakang agama – agama dunia. Sebagaimana dinyatakan oleh Geoffrey Parrinder dalam World Religions – From Ancient History to the Present [Agama – agama dunia – Dari sejarah Kuno sampai Sekarang] : “Mempelajari berbagai agama yang berbeda tidak perlu berarti tidak setia pada kepercayaan sendiri, tetapi sebaliknya [kepercayaannya] dapat diperluas dengan melihat bagaimana orang – orang lain mencari kenyataan dan diperkaya oleh pencarian mereka”. Pengetahuan menghasilkan pengertian, dan pengertian membuat seseorang memiliki sikap toleransi terhadap mereka yang berbeda pandangan. 

Sekalipun toleransi dan pengertian dibutuhkan, hal tersebut tidak menunjukkan apa yang dipercayai seseorang tidak penting. Sebagaimana diucapkan lagi oleh Geoffrey Parrinder, “Kadang – kadang dikatakan bahwa semua agama mempunyai tujuan yang sama, atau adalah jalan yang sama menuju kebenaran, atau bahkan bahwa semua mengajarkan doktrin yang sama. Namun, orang Aztek kuno, yang mengacungkan jantung korban – korban mereka ke matahari, pasti tidak mempunyai agama sebaik agama Buddha yang cinta damai”.


0 Response to "FENOMENA BERAGAM PENCARIAN TUHAN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel