MEWASPADAI TRANSAKSI POLITIK PRAGMATIS - James Personal Blog's

MEWASPADAI TRANSAKSI POLITIK PRAGMATIS

Demokrasi Politik Dengan Uang
Transaksi Uang Haram [James - Ist]

Sesuatu yang membuat seorang politikus tidak bisa melakukan suatu perubahan yang berdampak dalam kehidupan masyarakat adalah karena adanya transaksi politik pragmatis dengan para Politikus lain dalam merebut kekuasaan. Hal seperti ini terjadi ketika salah satu partai membangun koalisi dengan partai politik lain untuk merebut tampuk kekuasaan politik di Pemerintahan. Contohnya, Partai X membangun koalisi dengan partai Y. Pada saat partai Y melakukan korupsi, secara otomatis partai X tidak bisa menuntut karena adanya transaksi politik untuk mempertahankan kekuasaan. Pada akhirnya terjadi korupsi secara massal dan para koruptor ini saling mendukung dan menutupi kasus korupsinya. Maka tidak mengherankan apabila kadang dalam upaya memberantas korupsi di Republik ini, terkesan tebang pilih. Baca Juga : RAKYAT, KOMODITI MURAHAN YANG DIJAJAKAN DAN DIOBRAL DIMANA – MANA

Menjelang Pilkada serentak 2018 saat ini dan beberapa Pil – pil lainya [Pilpres dan Pileg] 2019 kedepan, sebagian kalangan menyoroti politik transaksional ini. Diharapkan kepada para calon pemimpin yang mencalonkan diri untuk bertarung, sebaiknya tidak melakukan transaksi politik pragmatis agar bisa melakukan gebrakan dan perubahan berarti yang berdampak bagi masyarakat luas. Karena selama transaksi politik pragmatis masih berjalan dengan mulus, sangat sulit untuk melakukan kontrol dan saling koreksi diantara masing – masing pemangku kekuasaan.

Memang sepertinya sangat sulit untuk tidak melakukan transaksi politik dan membangun koalisi, namun transaksi politik yang dibangun berpijak pada tanggungjawab moralitas politik dan penegakkan demokrasi, dimata transaksi politik bukan dengan tujuan meraih kekuasaan dan mempertahankan secara bersama – sama, melainkan berusaha bangun kerja sama dalam kerja nyata untuk kepentingan masyarakat. Dengan begitu, apabila ada yang melanggar hukum, maka tidak perlu segan – segan untuk mengeluarkan pelakunya dan partai tempat dimana oknum pelaku bernaung dikeluarkan dari partai peserta koalisi yang melakukan kesalahan yang tidak bisa ditolerir dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bermartabat serta benar – benar melayani rakyat.
Tetapi sebaliknya, pemimpin yang terjebak dalam transaksi politik pragmatis, tidak akan berarti apa – apa pada saat menemukan kerabat peserta partai koalisinya melakukan kesalahan – kesalahan dalam system pemerintahan yang dipimpinnya. Sebab apa yang dikedepankan adalah bagaimana mempertahankan kekuasaan hingga berakhirnya masa kepemimpinannya tanpa ada hasil dan kerja nyata bagi masyarakat. Pemimpin yang tersandera dalam transaksi politik pragmatis cenderung tidak mampu melakukan pembersihan atas orang – orang yang memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi disebabkan perasaan takut dikeluarkan dari peserta koalisi dan penentang pemerintahan yang dipimpinnya. 

Dari ulasan singkat ini, beberapa kesimpulan yang dapat diambil :
1.      Seorang pemimpin sebaiknya menghindari transaksi politik pragmatis dalam membangun koalisi untuk mempertahankan kekuasaan. Sebab tidak berarti apa – apa bila kekuasaan itu diisi oleh pejabat korup yang hanya mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya, apalagi pejabat korup yang motivasi akhirnya untuk mencuri hak – hak masyarakat.
2.      Sebaiknya transaksi politik dijalankan atas dasar politik moral yang mengedepankan kepentingan rakyat. Apabila terdapat oknum atau partai politik peserta koalisi yang melakukan kecurangan, sebaiknya dikeluarkan agar bisa dituntut atas perbuatanya melalui proses hukum positif.
Demokrasi haruslah dibangun diatas tanggung jawab moral bila hendak mewujudkan pemerintahan yang bersih. Adanya transaksi politik tanpa tanggung jawab moral merupakan bibit unggul yang menghasilkan korupsi laten.

Terima Kasih.!


0 Response to "MEWASPADAI TRANSAKSI POLITIK PRAGMATIS"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel