POLITIK OMONG KOSONG ALA NEGARA DEMOKRASI

POLITIK OMONG KOSONG ALA NEGARA DEMOKRASI

Akhir- akhir ini panggung politik republic ini tampil ibarat pementasan sebuah drama. Tontonan sebuah tragedi ini segera berakhir, kain panggung pentas ditutup, menanti drama baru yang penuh gelak tawa dan canda ria para politikus. Lampu- lampu yang padam itu segera dinyalakan lagi. Situasi yang tadinya gelap gulita, tiba- tiba menjadi terang benderang, dan para pelawak sandiwara Politikpun segera beraksi diatas panggung, mengocok perut penonton. Drama komedi penuh sensasi. Ya, sekadar menghilangkan kepenatan, kebosanan selama sekian waktu. Para penonton berteriak histeris, bersuara, memberi yel- yel support. Dengan riang merajut asa dan harapan baru. Setelah lama mata sakit, urat nadi seakan putus, semua berjalan serba raba- raba ditengah kegelapan.

Politik yang seharusnya berbobot dengan keprihatinan nasib negara dan rakyat, ternyata tampil dengan kenes entertaining, luaran dan murahan. Bagaimana tidak? DPR yang notabene adalah kepanjangan tangan dari rakyat untuk menyuarakan aspirasi rakyat itu, tersiar kabar korupsi? DPR yang notabene lembaga pergulatan politik rakyat yang seharusnya tahan kritik dan pandai mawas diri itu, malah kebakaran jenggot karena dikritik sebagai lembaga terkorup?

Belum lagi pernyataan- pernyataan semboyan para politikus kita. Presiden Republik ini yang sudah terpilih untuk periode kedua bersama kabinetnya mencanangkan satu program yang bernama Program kerja 100 hari dan lain- lain. Mengapa kita mesti terjerumus kedalam perang semboyan? Apa bedanya semua semboyan yang diusung para politikus kita? Apakah program 100 hari itu bisa dapat menyelesaikan semua masalah yang terjadi di republic ini? Apa bedanya program 100 hari dengan jangka waktu 5 tahun yang nanti setelah 100 hari ini? Dilihat dari realitas keamanan dan kesejahteraan rakyat, semua semboyan ini sama omong kosongnya. Soalnya, segudang semboyan para politikus di republic ini di dengungkan dan kita dengar, toh nasib rakyat tetap pahit dan menderita.

Para politikus di Republik ini mungkin memang hakikatnya adalah “Sekumpulan pakar iklan dan serakah, terutama serakah dalam menarik perhatian”, jadi mereka tak ubahnya seorang Artis sebabnya yang mereka jual bukanlah kecantikan atau ketampanan, tapi keomong kosongan yang bisa membujuk rakyat. Politikus memang insan yang sulit mengaca diri, atau kalau mereka mau berkaca, yang mereka lihat hanyalah kecantikan, ketampanan dan kebaikanya saja. Pertanyaanya adalah, kemana wajah mereka yang sesungguhnya, yang juga buruk dan busuk??

Jelas, negara ini dipenuhi dengan politikus ‘murahan’ yang berwatak seperti diatas ini. Dan dalam kehidupan demokrasi, politikus- politikus seperti diatas ini adalah kepanjangan tangan dari “kekuatan- kekuatan gelap”, yang pada akhirnya membahayakan keselamatan demokrasi itu sendiri dan rakyat.

Maklum, demokrasi adalah buatan manusia, yang memang bisa bersalah, dan pada kodratnya suka serakah. Dengan kata lain, demokrasi juga bisa menjadi lahan subur yang melahirkan dan menciptakan politikus- politikus yang bermoral bejat. Oleh karena itu, makin kita merasa hidup dialam demokrasi, kita seharusnya pandai mawas diri, mengontrol dan mengkritisi tingkah laku para politikus seperti diatas. Tapi sangat di sayangkan, dalam perkembangannya, para politikus kita takut di kritisi sehingga membatasi kebebasan* rakyat dengan berbagai cara. Padahal, sesungguhnya dalam sebuah Negara yang menganut paham demokrasi, kritik adalah sesuatu hal yang wajar, kritik adalah bumbu- bumbu yang menghidupkan demokrasi itu agar demokrasi itu terlihat tetap hidup.

Dalam Negara demokrasi kekuasaan terbesar terletak pada rakyat. Negara bertanggung untuk melindungi kebebasan rakyat. Dengan demikian, keputusan Negara adalah keputusan rakyat. Pemerintah hanya menjalankan keputusan rakyat, karena pemerintah dipilih dari rakyat, oleh rakyat, dan bekerja untuk kepentingan rakyat dengan menerima upah yang setimpal dengan bobot kerjanya.

*) Penulis adalah Mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi di Jakarta, dan Penghuni Jalur Bebas Hambatan.  

Earning Disclaimer : Sebagian foto dalam artikel disitus ini diambil dari berbagai sumber situs Web internet untuk kepentingan ilustrasi tanpa bermaksud untuk mengkomersialisasi. Hak sepenuhnya ada di situs web sumber gambar tersebut. Sedangkan konten musik yang diposting dalam situs ini semata hanya untuk tujuan promosi. Di situs ini juga ada Spanduk dan Iklan. Jika Anda mengklik atau membeli produk tertentu melalui tautan dari situs web ini, Maka kami memperoleh sebagian kecil komisi, tanpa biaya tambahan untuk Anda.Pendapatan tersebut digunakan untuk menjaga situs web ini terus eksis. Admin