GOBLOKNYA DIRIKU JADI MAHASISWA

Renungan dan Bahan Refleksi untuk Semua Anak Negeri Untuk tidak Terjerumus dalam Rayuan Gombal

Apakah saya salah menulis judul dalam menurunkan tulisanku ini ? Apakah mungkin maksud saya adalah Go Block tetapi saya salah tulis akhirnya jadi Goblok ? Ataukah ? Tetapi tidak, saya tidak salah tulis, maksud saya memang seperti itu alias saya memang goblok.
Konon, kata orang diriku sebagai seorang mahasiswa adalah Agen perubahan dan `pembebasan` ( Agent of change and `Freedom`), konon kata orang diriku sebagai seorang mahasiswa adalah elit intelektual dari suatu daerah ( tetapi dalam hal ini saya dari Papua barat), konon kata orang diriku sebagai seorang mahasiswa adalah ujung tombak dan motor penggerak dari suatu gerakan perjuangan rakyat, konon dan konon yang lainnya.
Tetapi tidak demikan dengan diriku, karena saya menggadaikan harga diriku dan kapasitas serta intelektualitas saya sebagai seorang mahasiswa dengan murah hanya untuk kesenangan dan kenikmatan sesaat dengan jalan memanfaatkan Perjuangan besar dan mulia yang sudah, sedang, dan akan diperjuangkan orang- orangku. Idealismeku sebagai seorang mahasiswa saya pertaruhkan hanya untuk kesenangan sesaat tadi. Saya memang pengecut, pengkhianat dan `mungkin` yang sekarang saya miliki adalah sejuta idealisme gila lain. Saya memang mahasiswa murahan dan benar- benar goblok.
Karena kegoblokan diriku dan kegilaan idealisme saya yang lain membutakan mata hati saya untuk tidak menyadari satu hal besar yang menyebabkan orang- orangku perjuang untuk berdaulat,satu hal besar yang saya tidak menyadari itu adalah orang- orangku sudah, sedang dan akan dibantai karena isu perjuangan yang saya manfaatkan untuk cari popularitas diriku ini. Dan terakhir yang saya tidak menyadari adalah Siapakah diriku ? Apakah orang- orang yang memberi kesenangan buat diriku saat ini akan selalu berada setiap kali saya susah ? Apakah mereka memang baik ?
Sayang seribu sayang,   karena nasi telah jadi bubur barulah saya menyadari hal ini. Memang benar, kata orang bijak penyesalan selalu datang dari belakang. Ya,,,,sudah setelah semuanya saya lakukan barulah saya menyadari hal ini, dan memang saya salah. Tetapi bisakah saya memaafkan saudara- saudaraku dengan mengakui kesalahan besarku ini ? Bentuk permintaan maafku sama saudara- saudaraku dengan cara apa ? Mungkinkah saudara- saudaraku bisa mempercayai saya lagi ? Pertanyaan- pertanyaan ini selalu mengganggu pikiranku.
Itulah sebabnya saya mengakui kebodohanku yang menjual perjuangan mulia, menggadaikan harga diri dan idealismeku dengan cara bejat dan amoral untuk cari popularitasku, ya,,,dengan caraku ini namaku ditaruh di headline berita media massa local maupun nasional. Dengan cara demikian saya akan jadi top, tapi saya tidak tahu apa yang dilakukan orang- orang yang saya Bantu ini terhadap orang- orangku dibalik gunung sana,. Mungkinkah mereka baik- baik ???

Tulisan ini adalah bahan refleksi untuk diriku dan teman- temanku mahasiswa papua untuk mengintrospeksi diri. Tulisan ini tidak bermaksud memvonis seseorang secara individu tapi bahan refleksi agar kita jangan tergoda dengan rayuan `maut` yang ditawarkan oleh musuh kita yang sebenarnya, kita bisa, jadilah satu dan lawanlah musuhmu yang sebenarnya selagi kita masih bisa berbuat.

Dalam Kitab nabi Amsal dikatakan bahwa “Seorang sahabat memukul dengan maksud ( niat) baik, tetapi seorang musuh memberi ( mengasihi ) dengan maksud tersembunyi.

Harapan dan semangat itu masih ada, bersatu dan kita berpikir untuk melangkah ke depan, sekalipun kita orang Papua jalan dengan air mata tetapi dalam kitab pengkhotbah 3 dikatakan bahwa “ Segala sesuatu ada waktunya”. Soo, Suatu saat orang papua akan bernyanyi kegirangan dan nyanyian itu akan menggema ke seluruh penjuru dunia. Jah bless.

“ UNITY IS POWER “

Salam pembebasan.

*) Penulis adalah Mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi di Jakarta, dan Penghuni Jalur Bebas Hambatan. 
Advertisement
ads here

0 Comments


EmoticonEmoticon