MENGENTASKAN ANAK – ANAK PAPUA DARI BUTA HURUF

Dok. Pribadi

Pdt. Daniel Alexander

“ Pria kelahiran Surabaya 22 Maret 1956 ini terlahir dari keluarga yang sederhana. Kedua orang tuanya sangat cinta Tuhan. Sehingga tak heran kalau sejak kecil, Daniel, demikian sapaannya, memperoleh ‘Gemblengan rohani’ luar biasa – mengikuti jejak kedua orangtuanya. Tak pelak, ketika usianya beranjak remaja (SMP), Daniel sudah bertobat dan mengenal Yesus sebagai Juruselamat. Hidupnya pun berubah dan berkobar – kobar untuk melayani Tuhan. Kini visi terbesarnya adalah mengabdikan dirinya untuk mengentaskan orang Papua dari kemiskinan dan buta huruf”.

Api injil itu terus membara, seolah membakar relung hatinya untuk melayani Tuhan. Sejak tahun 1980, Daniel sudah menjadi penginjil keliling, bahkan melayani hingga ke mancanegara. Dalam setiap pelayanannya, untuk memenangkan jiwa, Daniel kerap menggelar Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). “Saya sangat terpengaruh dengan sebuah ayat dalam Roma 1 : 14, Paulus mengatakan, ‘Aku ini berhutang’. Itulah yang membuat saya sadar, bahwa kita ini sebenarnya berhutang kepada Tuhan Yesus. Kenapa? Karena Tuhan Yesus itu telah membayar lunas dosa kita dan tidak minta dikembalikan. Ini luar biasa. Bukankah kalau kita berhutang kepada manusia, pasti minta dikembalikan? Makanya saya sangat terbeban melayani, khususnya kepada anak – anak. Kalau bisa jangan sampai ada anak Indonesia yang tidak Sekolah. Akhirnya saya mulai dari Papua, “Ujar Daniel yang sempat kuliah di Universitas Petra Surabaya, Jurusan Sastra Inggris. 

Daniel memilih Papua sebagai ladang pelayanannya itu dilatarbelakangi dengan rasa penasarannya terhadap Amanat Agung Tuhan Yesus, “Jadilah saksiku dari Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ujung bumi”. Kalimat “Sampai ke Ujung Bumi” inilah yang mengganggu pikirannya. Ia terus merenungkan kalimat tersebut dan bertanya kepada Tuhan, “Dimanakah ujung Bumi?” Hingga suatu hari Daniel mendapat jawabannya. “Saya membaca buku yang sudah cukup tua usianya. Judulnya, ‘From Jerusalem to Irian Jaya’. Ketika saya membacanya, muncul pertanyaan, Kenapa dari Yerusalem ke Irian (Papua)? Ada apa dengan Irian (Papua)? Saya semakin semangat membaca buku tersebut. Dari buku itulah saya memutuskan untuk melayani di Papua. Karena menurut buku tersebut, saya yakin, Papua adalah ujung bumi. Kalau sudah tahu ujung bumi itu Papua, kenapa saya harus berkeliling ke daerah lain”, kenang Daniel yang notabene adalah pendiri PESAT (Persatuan Desa Terpadu) ini.


Mendirikan 35 Sekolah Di 9 Kabupaten Di Papua
Semenjak memperoleh jawaban kebenaran itu, akhirnya Daniel memutuskan untuk pergi ke Papua (nama ini diganti Pemerintahan Gus Dur, dari Irian menjadi Papua). Pada waktu itu, pulau yang bentuknya mirip burung Cenderawasih ini masih sangat tertinggal. “Tahun 1990 saya ke Wamena untuk mencari data dan survey tempat. Saya langsung jatuh hati dengan pulau tersebut. Papua itu pulau yang besar dan belum tertata dengan baik. Sumber Daya Alam (SDA) mereka banyak yang belum digali karena Sumber Daya Manusia (SDM) juga belum dibangun. Melihat keadaan Papua, saya semakin yakin bahwa inilah ujung bumi. Dan tahun 1990 itulah, awalnya saya merintis sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA), tetapi waktu itu mengalami kegagalan. Secara logika saya, kalau membuka Sekolah dari SMA, setelah lulus, kemudian melanjutkan kuliah hingga selesai dan dapat bekerja. Ternyata pikiran saya salah. Justru di Papua tidak bisa demikian. Setelah mengalami kegagalan, pikiran saya diubahkan oleh Roh Kudus, yaitu mendirikan TK berpola Asrama. Karena untuk membawa Papua keluar dari ketertinggalan harus dimulai dari Pendidikan anak – anak,” terangnya.
Awalnya Daniel mulai mengenalkan kepada mereka membaca dan menulis. Disamping berkhotbah, ia juga memberi penyuluhan bagaimana menggali kekayaan alam yang terpendam di daerah tersebut. Dalam waktu singkat, Daniel menjadi sahabat orang – orang Papua, khususnya di Nabire. Tahun 1995, ia mendirikan Sekolah Taman Kanak – kanak (TK) sekaligus asrama bagi mereka. Rencana ini sempat tersendat lantaran banyak orang tua yang tidak merelakan anaknya tinggal di asrama. Syukurnya, Daniel bisa mengatasi masalah tersebut. Malahan, dari tahun ke tahun, jumlah anak didik mereka bertambah. Bukan hanya TK, tetapi Sekolah jenjang tinggi pun dibangunnya.
Dari satu desa, pelayananya makin merambah ke desa lain. Dalam waktu singkat, beberapa Sekolah sudah berdiri disana. Herannya, meski Sekolah dibangun di daerah yang minus dan terbelakang, mereka memiliki guru – guru yang berkompeten. Ini bukti, ternyata, Daniel berhasil membagikan visi misinya kepada banyak orang untuk membangun Papua. Harapan Daniel adalah agar putra daerah bisa membangun dan mengelola kekayaan tanah kelahiran mereka yang sudah sekian lama tercuri oleh pihak luar. “Sekarang sudah ada 35 Sekolah di 9 kabupaten di Papua. Kira – kira muridnya ada 3000 anak dan tiap tahunnya akan bertambah terus. Pusat Sekolah itu berada di Nabire. Kemudian yang lain ada di kabupaten Paniai, kab. Intan Jaya, Kab. Mimika, Kab. Jayawijaya, Kab. Sarmi, Kab. Mamberamo, Kab. Jayapura, dan kab. Keerom,” Ujar Daniel yang mengaku sudah melayani selama 13 tahun lebih.


4 Ancaman Berbahaya Bagi Papua : Usia Pendek, AIDS, Malaria, dan TBC
Menurut Daniel, sedikitnya ada 4 (empat) ancaman yang sangat berbahaya bagi Papua saat ini, yakni, Umur terpendek di Indonesia, penyakit AIDS, Malaria, dan TBC. “Orang Papua itu rata – rata umur 45 tahun sudah mati. Ditambah lagi, angka kematian bayi itu rata – rata 60 – 70 %. Bahkan ada 3 penyakit terbesar yang diderita oleh orang Papua, yakni : AIDS, Malaria dan TBC. Kalau tidak ada yang menolong mereka, lama – lama bangsa Papua bisa punah,” tukasnya. ***


Advertisement
ads here

0 Comments


EmoticonEmoticon