LUKA HATI SEORANG TERJAJAH

Ilustra Pencarian Google



Memindai hati lara laksana harimau menerkam mangsa,
terkutuk wahai kau lara.

Terbaca jelas di mata mereka,
siap terbahak melihat kedukaan kita.

Sang bintang kejora menangis tersedu,
menyayat hati kita.

Terbayang di benakku,
bunda berkebun seraya tertawa.
Senyum ranum di sebaris bibirnya.
Ayah pun berkebun sambil memandang,
mata ayahku berbinar terpancar
melihat kedatangan tentara.

Tapi apa boleh dikata
mereka merenggut semuanya.

Jiwa raga, harta dan kegembiraan
di curi paksa oleh mereka (tentara).

Penjajah dari negeri barat,
membuatku muak membara
maut datang mendadak
membuat kaget bukan main.

Bunda hilang dengan senyumnya
membuat marah bergelora,
di bantai semuanya.

Hilang satu per satu,
sampai semua yang kumiliki.

Sampai kapan ini berakhir?
Apakah sampai cucu buyutku?

Menderita akan ini
kita harus bangkit berdiri,
mengusir penjajah di tanah luhur.

Kita harus bangkit melawan,
bersatu dan rapatkan barisan,
untuk mengakhiri ini.

Merajut tenunan indah hari esok,
dan memimpin diri kita di negeri kita sendiri.


(Jakarta, 28 Mei 2010)
Advertisement
ads here

0 Comments


EmoticonEmoticon