ORANG PAPUA HARUS KENALI JATIDIRI DAN JAGA PERSATUAN

ORANG PAPUA HARUS KENALI JATIDIRI DAN JAGA PERSATUAN

JUBI---Orang Papua harus mengenali diri dan terus menjaga persatuan serta kesatuan bagi sesama orang Papua. Kalau ada politik adu domba dan bentuk bentuk perpecahan segera berkomunikasi dengan para pemimpin terutama para kepala suku.

Hal ini diungkapkan Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se Indonesia (DPP AMPTPI ) Markus Haluk saat jumpa pers di Sekretaris DPP AMPTPI di Perumnas I Waena Selasa (11/8).
"Tuduhan separatis dan stigmatisasi bukan hal baru bagi orang Papua termasuk orang gunung yang selalu dikambinghitamkan dengan berbagai tuduhan oleh Jakarta, aparat keamanan dan juga orang Papua sendiri,"tegas Markus Haluk seraya menegaskan kembali bagi orang Papua terutama adalah "kenalilah dirimu sendiri dan jangan mudah dipengaruhi demi kepentingan kepentingan yang merugikan orang Papua sendiri".
Markus Haluk menambahkan konflik kekerasan di tanah Papua belum pernah selesai semenjak pemerintah Indonesia bercokol secara defakto pada 1 Mei 1963 sampai dengan sekarang. "Sudah banyak ratusan ribu rakyat Papua menjadi korban kekerasan negara. Pemerintah Indonesia melalui aparat keamanan secara tidak berperi kemanusiaan terus melakukan berbagai kekerasan terhadap masyarakat sipil di tanah Papua,"ujar Markus Haluk.
Ditegaskan Otsus telah gagal karena tidak memberikan penyelamatan, perlindungan dan pemberdayaan terhadap orang asli Papua. "Sebaliknya Otsus Papua mengantar masyarakat Papua ke jurang kematian,"ujar Markus Haluk.
Lebih lanjut urai Markus Haluk konflik kekerasan di tanah Papua dalam kurun waktu empat bulan ini, selama proses Pemilu Legislatif 9 April sampai dengan Pilpres 8 Juli terus meningkat secara signifikan.
"Kami mencatat selama ini konflik kekerasan terjadi melalui non fisik, fisik. Penyebaran ancaman teror melalui pesan SMS (Short Message Service), pernyataan teror dan intimidasi melalui media merupakan bentuk kekerasan non fisik yang terjadi pada rakyat Papua,"tegas Haluk.
Selanjut kekerasan fisik lanjut dia mulai dari penggeladahan Kantor DAP, rumah sipil (Jayapura, Timika dan Serui) sebanyak enam peristiwa, pembungkaman hak kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum empat peristiwa, penculikan dan penangkapan sewenang wenang terhadap 141 orang (Kabupaten Mimika, Yapen, Jayapura, Wamena, Nabire dan Mamberamo Raya), penemuan empat bom (Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom), aksi penyerangan dan penembakan oleh aparat keamanan terhadap warga sipil terjadi 18 perisitiwa dan 45 orang mengalami penyiksaan dan 12 orang meninggal dunia, aksi penyerangan oleh kelompok tidak dikenal/TPN OPM, 10 peristiwa dan 10 orang meninggal dunia, proses ketidak adilan hukum terhadap warga sipil 15 kasus, serta pengibaran Bintang kejora oleh kelompok tidak dikenal/TPN OPM sebanyak 10 kasus.
Berbagai bentuk konflik dan kekerasan yang diungkap di atas lanjut dia telah terjadi pada hampir semua kabupaten/kota di tanah Papua mulai dari Kota/Kabupaten Jayapura, Mamberamo Raya, Keerom, Jayawijaya, Puncak Jaya, Nabire, Mimika serta beberapa kabupaten lainnya.
"Semua peristiwa teror dan tindakan kekerasan yang terus terjadi di tanah Papua sebelum dan menjelang dan paca Pemilu Legislatif dan Pilpres merupakan tindakan kelompok tidak dikenal. Hal oleh aparat keamanan secara sadar dan sengaja dilakukan untuk menciptakan konflik vertikal dan horizontal di kalangan masyarakat Papua,"tegas Haluk.
Ditambahkan masyarakat Pegunungan Tengah Papua secara khusus orang Wamena seringkali dituduh sebagai pelakunya. "Tuduhan tersebut dinyatakan dengan berbagai komentar pihak tertentu secara terbuka mau pun tertutup dan juga melalui telepon atau SMS yang berkembang di kalangan masyarakat dan aparat keamanan,"ujar Haluk.
Bertolak dari berbagai perintiswa konflik kekerasan di tanah Papua maka Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah papua se Indonesia (DPP-AMPTPI) menyatakan sikap antara lain,
1, Mendesak kepada Pemerintah Indonesia untuk segera membuka diri guna melakukan dialog nasional secara bermartabat dimediasi oleh PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) guna mennyelesaikan masalah Papua secara menyeluruh dan tuntas konflik kekerasan negara di tanah Papua. 2. Mendesak kepada Pemerintah Indonesia melalui aparat keamanan dan penegak hukum untuk menghentikan semua proses bentuk tekanan, teror, intimidasi, penangkapan sewenang wenang serta proses hukum bagi warga masyarakat teristimewah para aktifis HAM dan Demokrasi. 3. Mendesak pemerintah Indonesia untuk membebaskan tahanan politik saudara Philep Karma, Yusak Pakage serta tahanan politik dan membenaskan aktivis HAM Papua Buchtar Tabuni, Seby Sambom dan tahanan politik serta aktivis HAM lainnya. 4. Mendesak kepada Kapolri melalui Kapolda Papua untuk mengungkap pelaku penembakan saudara Opinus Tabuni yang tertembak pada 9 Agustus 2008 di lapangan Sinapuk Wamena.5 Menyerukan kepada rakyat Papua untuk melakukan doa dan puasa untuk penyelamatan rakyat dan tanah papua dari ancaman kepunahan dan untuk tetap menjaga tanah Papua sebagai tanah damai. (Dominggus A Mampioper)
Earning Disclaimer : Sebagian foto dalam artikel disitus ini diambil dari berbagai sumber situs Web internet untuk kepentingan ilustrasi tanpa bermaksud untuk mengkomersialisasi. Hak sepenuhnya ada di situs web sumber gambar tersebut. Sedangkan konten musik yang diposting dalam situs ini semata hanya untuk tujuan promosi. Di situs ini juga ada Spanduk dan Iklan. Jika Anda mengklik atau membeli produk tertentu melalui tautan dari situs web ini, Maka kami memperoleh sebagian kecil komisi, tanpa biaya tambahan untuk Anda.Pendapatan tersebut digunakan untuk menjaga situs web ini terus eksis. Admin