PUISI PERLAWANAN (Disadur Dari Puisi Wiji Thukul)

PUISI PERLAWANAN (Disadur Dari Puisi Wiji Thukul)

 MENGEJAR MIMPI
Ku coba membuka lembaran baru
dimana tak ada tangan yang mengekangku
tak ada rantai yang m
engikatku
tak ada norma yang melarangku

aku bebas disini
tanahku sendiri
pulauku seutuhnya

datanglah..kuundang kalian semua
merayakan kebebasan kita
dari dunia nyata yang gelap gulita
berbisiklah..menjeritlah..menarilah..

bercintalah..menangislah...berdukalah
keluarkan semua sesak

karena disini hanya kebebasan...

dan salam untuk semua yang mencintai kebebasan.

MERDEKA
Keluar dari kegelapan kutemukan titik terang
Paru-paruku kembali mengembang
Terlepas dari belenggu zaman
Tubuhku meluncur mengikuti arus
Membabat perbedaan-perbedaan
Melucuti jeruji-jeruji marjinalisasi
Yang selama ini telah memenjarakanku
Lega, akhirnya, kutemukan juga kata merdeka

Kusentuh cahaya kebebasan
Kurangkai huruf demi huruf menjadi kata
Kata-kataku meluncur deras di antara batu-batu cadas
Kudaki gedung-gedung pencakar langit
Kulumat wajah-jawah sinis penuh kumis
Kakiku terus melangkah, melintasi sekat-sekat
Menghancurkan dominasi yang dibangun oleh
Serdadu-serdadu yang merasa perkasa
Keperkasaan bukan melulu otot-otot yang besar
Kekuatan bukan melulu milik tubuh yang kekar
Kekuasaan bukan melulu lahir dari makhluk berzakar

Ingin kusentuh terus cahaya kebebasan
Agar sinarnya tetap menyala
Menerangi bumiku yang lama pincang
Menyinari wajah perempuan-perempuan
Yang tak kenal lelah mencari pengakuan
Demi satu kata “MERDEKA”


KEBEBASAN YANG KU TAWARKAN
aku tak bisa menawarkan kebahagiaan dirumahku ini
aku hanya bisa memberi kebebasan
yang mungkin akan membawakan kebahagiaan untukmu
bergabunglah bersamaku
dan bersama pujangga lainnya
tak ada yang kan mencerca
kukan menyambutmu dengan tangan terbuka
ada persahabatan yang kutawarkan untukmu
itupun bila kau mau
senang bila kau merasa nyaman disini
berbaringlah
menarilah
tertawalah
bebaskan jiwa yang terkekang
karena jiwa bebasmu menghidupkan pulauku.
http://kaitodef.wordpress.com/

TENTANG HARMONI KEBEBASAN DAN KEDAMAIAN
“Terbanglah wahai kebebasan
bersama angin dan burung-burung camar
di langit biru yang melambai
dan terus mengepak melantunkan dendang dan salam rindu

Di tanah itu,
pucuk-pucuk pinus mulai bersemi mekar
dan bersinar, ketika mentari pagi menyapa mawar-mawar merah di taman kota
yang penuh harapan dan kedamaian

Ketika aku menoleh ke belakang,
di senja yang temaram itu,
di kejauhan, sang surya bergeser perlahan ke peraduan.

Menyapa ,
memberi salam datangnya bulan dan bintang
yang bersinar di malam yang hening
dalam kebesaran jagad raya kita

Kekuasaan Sang Khalik yang luar biasa,
ketika siang berganti malam
ketika keteraturan galaksi dan alam semesta berjalan berkelanjutan

Tatanan
Harmoni
Keteraturan
Jagad besar kita

Kalau boleh kukabarkan kepada sebuah jaman yang belum datang
alangkah indahnya kebebasan
alangkah mulianya kedamaian
yang hidup teduh bersama harmoni dan keteraturan

Keniscayaan alam semesta
keniscayaan kehidupan kita semua”

http://www.kedai-kebebasan.org/


PILIHAN KEBEBASAN
Kebebasan memilih
telah kauajukan aku ke sini
meyakinkan akalku mengerti
makna diri.
Tapi bagaimana
perjalanan panjang lorong-lorong bersilang
sedang pergikah aku atau pulang?
Jalan ini katamu jalan semalam
tapi likunya berganti
dan sungai beralih haluan
aku jugalah kurang sedia
memahami perubahan.
biarlah aku di sini
berteduh mengeluh di bayang kebosanan
sambil menghitung waktu lepasku
oleh kebebasan.
Rahman Shaari
Selangor, 25 Januari 1976.



MIMPI
Aku pemimpi, maka tugasku adalah bermimpi…
Indah dan suram mimpiku tetap kuhadapi….
Darah dan dahaga adalah lumrah dalam perjuangan…
Airmata dan penantian adalah penghiasnya…
Aku pulang….
Hari ini sebuah mimpi coba diwujudkan…
Aku berdoa….semoga Allah yang Maha Esa memilihku utk tugas ini.
Ahhh,,,,,,, aku sudah terjaga, mari wujudkan berjuang.

SEJARAH
Sejarah kelam masa lalu itu kini menghampiriku, menuntut darah juangku. sebagai pewaris tunggal masa lalu
aku beku, diam, berpikir menjadi begitu kelam
sejarah masih membingungkan di negeri ini.


UNTUK RU
Sejuk benar engkau hari ini
Seperti hari-hari biasa di bulan-bulan lalu
Tapi kau ingkar janji tuk menerima sebuah pemberian ku
Sebuah Roman Zainuddin dan Hayati
Aku diam terpaku di ruang tunggu
Kau terus pura-pura tidak tahu
Membisu dalam ruang mu itu
Padahal kita sudah berjanji agar aku memberimu Hikayat anak rantau pedih hatinya itu
Mungkin itu kisahku atau pula kisahmu
Dan mungkin pula bukan kisah kita sama sekali
Tapi Novel itu tentang setia, sebuah harapan segala doa
Apakah kau tidak berkenaan dengan sikapku
Entah aku tak tahu
Ru Novel Buya itu untukmu, Janjiku
(Jakarta, 14 September 2009)


ORANG MISKIN BERAK DI KALI
Orang miskin berak di kali
sejurus kemudian aku maki-maki republik ini
orang miskin mati di pasar
aku kutuki pemimpin yang lupa diri
pengemis bingung mencari nasi
di ranjang sampah presiden kita bergudang-gudang makanan bekas resepsi
penganggur bunuh diri
anak menteri mudah cari rejeki
aku tak tahu harus bicara apa lagi
pemimpin lupa diri
rakyat sepertiku hanya bisa memaki
perut kosong belum terisi
hampa nian hidup ini
oh,,,,,,,, tuan-tuan tanah di atas sana
sudah lupakah tuan keringat kami yang tuan peras
ibu-ibu kami tuan paksa bangun pagi
anak negeri tuan beri julukan bodoh dan pemalas
sedangkan tuan sibuk ongkang-ongkang kaki
kemana lagi aku pergi mencari sesuap rasa hati
padahal teman sejati tak kutemui
sendiri memperjuangkan hal-hal yang tak pasti
untuk sebuah harapan dalam hati
rasa cinta kepada ibu bangsaku
orang miskin masih berak di kali.
(Jakarta, 1/09/09)


BODOH
Sudah dari dulu aku sadar, aku bodoh dalam hal ini.
tapi masih juga ku telusuri harapan-harapan kosong
bukankah chairil sudah katakan; tak sepadan
persetan kataku kemudian
tapi hanya dengan menghitung lembab di dinding, tak lama
aku baru tahu betapa ampuh chairil
bodoh, keledai pun tak sebegitunya
hati menutupi pikiran
rasa mengelabui kebenaran
fakta adalah segalanya
begitu juga apa yang ku ungkapkan padamu
betapa cintanya aku pada senyummu
(Jakarta, 1/09/09)


SURAT UNTUK IBU
Ibu, sabarlah..karena aku belajar sabar dari diri mu,
basuh peluh hati mu, senyumlah, karena itu hapuskan luka.

BIASA- BIASA SAJA
Wah bukan, sekali lagi bukan karena untuk menambah status ku di FB, agar Relationship status jadi lebih panjangan, ia hadir begitu saja
juga bukan karena lupa daratan., sehingga anak kampung coba2 berani mengadu nasib dengan anak kota., hanya karena ia datang begitu saja
tak perlu ku simbah darah ‘kan
tak perlu juga ku hanyutkan cita-cita
aku laki-laki biasa dengan impian luar biasa, karena itu tiba2 kamu menjadi raga dan rangka, rupa mu utuh sempurna dalam imajinasiku seutuhnya
tapi kau tak mau tahu., tak peduli, jadi ku berkeras dengan apa adanya diri, biasa-biasa saja tak akan pernah lebay
susah sekali mengenal anda tuan
karena kaupun hadir begitu saja
Kamis, 06 Agustus 2009

PUISI “SOE HOK GIE”
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa,,
pada suatu ketika yg tlah lama kita ketahui,,
apakah kau masih slembut dahulu,,
meminta ku minum susu dan tidur yang lelap,,
sambil membenarkan letak leher kemeja ku,,
kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih,,
lembah pandalawangi,,
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram,,
meresapi belaian angin yg menjadi dingin,,
apakah kau masih membelai ku semesra dahulu,,
ketika ku dekap…kau dekaplah lebih mesra,,lebih dekat,,
apakah kau masih akan berkata,,ku dengar degap jantung mu,,
KITA BEGITU BERBEDA DALAM SEMUA…KECUALI DALAM CINTA
(Puisi yg dibacakan nicholas ”gie” saputra pada OST Film Gie)


RENUNGAN KU SEORANG
dalam renungan ku
aku ini sendiri
diombang-ambing tekad dan ambisi
padahal perahu ku didayung ke tengah atau menepi
atas kehendak bukan badan diri
dalam renungan ku sorang
terhenyak lalu berang
tak ku temukan tempat berpegang
kau adalah biduan yg pernah ku kira tempat bersandar
namun kau hilang
ditimbun oleh kasta mu
belum lagi keindahanmu
sudah! ku tutup lagi buku, perjalan menjari teman sejati….
dalam renungan ku sorang…..
(jakarta, 03/06/09)


PUISI BUAT SANG DEMONSTRAN
(Rabu, 15 April 2009)
Sejauh mana kita telah bertakbir
Untuk meruntuhkan yg lalim
Berangkulan bahu, bersatu padu hari demi hari
Menjaga hasrat hati melindungi tubuh Ibu Pertiwi
Tidak dapat kita hitung jauhnya jalan perjuangan
Bersama-sama meniti dgn sepatu kumal dari tempat-tempat sepi hingga hotel-hotel berbintang…
Namun waktu harus berlalu memisahkan arah tuju
Tapi masih pada matahari yang sama, tujuan yang ingin kita gapai
Maka titik persimpangan kan selalu mempertemukan utk saling mengingatkan dan berbagi…
Ini hanya dinamika dari dimensi hidup…begitu kata orang bijak…
maka raihlah yang patut untuk kita raih….
Maka untukmu sang demostran, sahabatku..lagu lama masihku nyanyikan…
“ayo rapatkan barisan, satu komando, satu tujuan, genggam jarimu lalu kepalkan sbg simbol perlawanan”
NYAMUK KOTA
Berdenging-denging
mengganggu tidur
sudah tiga hari
tak jemu-jemu
iblis penghisap darah kecil tak tahu diri
sudah coba ku keluarkan jurus biasa
tapi apa daya
mereka beda
nyamuk ibu kota
lebih cepat bergeraknya, gesit, susah dibantai
Aku kesal, bangun, cari sendal, merangsek mencari kedai
tapi tak ada disekita rumah, sialan
ondeh mandeh
terpaksa tidur-tidur ayam, tidur iya lelap tiada
kuputuskan tidur di kantor lusa
setelah itu tunggu balasanku
untuk mu nyamuk kota
dendam kesumat seorang anak kampung
cuiiih awas kau


REVOLUSI
Siapa yang paling kuat mengukuhkan kakinya di muka bumi
SIAPA YANG PALING KUAT MENGUKUHKAN KAKINYA DI MUKA BUMI
dialah yang bertahan
DIALAH YANG BERTAHAN
Jangan mundur sedetikpun kawan
JANGAN MUNDUR SEDETIKPUN KAWAN
Rakyat tak sudi engkau khianati
RAKYAT TAK SUDI ENGKAU KHIANATI
Negara ini masih mencari jati diri
Tapi tidak kalian
Para pejuang sejati
Revolusi ini sampai mati
Selesaikan yang terabaikan
Siapa rela?
Ikut dalam dibarisan
Yang kuncun segeralah lari pulang
Karna ini pastilah berdarah-darah
Sebab itulah takdirnya
(Selasa, 24 Feb 2009, 08.20 am)


KHIANAT
Taukah kau
Qabil
dulu juga berkhianat krn nya
Jadi
aku tak heran bila…pun dirimu terperdaya fisik semata
lalu membunuh ku dengan diam…
Tapi taukah engkau juga
aku sudah memaafkanmu dalam senyap….
walau aku berkepundan dalam sedih
namun ku bisa tersenyum
ternyata kamu cuma segitu…
Berkata seolah-olah…
nyatanya cuma olah-olah kata…
suatu saat…
yakinku…
kesungguhan kan membuktikan…
pasti terbukti…
nikmatilah cintamu hari ini…
aku jujur saja tak mendoakan kau bahagia…
tapi juga sangat tak rela kau menderita…
Khianatmu diruangku
bersetubuh dengan tipuan
makasih…
membuatku paham…dan lebam dengan penderitaan…
(Senin, 23 Feb 2009, 11.45 pm)


TAK MINUM KOPI MALAM INI
malam aku ingin tidur
tak bisa
kau tetap hadir
padahal ku tak ngopi malam ini
hanya 3 gelas sepanjang siang tadi
masalahmu masalahku
kuterbawa jika kau gundah
resah mutualisme
novel puthut tak membantu lg
aku hilang akal
lupa dan tersesat
menjelajah rindu nan kutahan
mungkin ku harus lelap
tapi aku tak bisa tidur
padahal ku tak ngopi malam ini
hanya 3 gelas sepanjang siang tadi
(22 Feb 2009, Minggu, 12.19 am)


EKSISTENSIMU
Eksistensimu
apakah kau benar-benar ada
atau hanya jalan fungsi otakku saja
satu kali kupikir kau hanya imajiner
kadang kau hadir…lebih sering kau pergi
kalau begitu
otakku tak berjalan seimbang
hatiku berkhianat…ia membuatmu eksis
Kalau begitu kau akan selalu disini
di hati
pengkhianatan yang terlalu
membuatku menunggu kehadiran materiilmu
padahal kau hanya imajinasi
princess….
(Kamis, 19 Feb 2009 9.42 pm)



DI REDAM
Aku menepi
di sudut ini
memberi ruang
tuk bahagiamu
Tetaplah jauh
membantu ku akhiri
Tetapi masih jua kau mengitari
memberi bayang yang mau kulupakan
kutiadakan…
Tega sekali, luka disobek kembali
hati remuk diredamkan
perih diasamkan
Apa maumu
kau meminta akhiri
perkara debu
kau gunungkan
canda kau darahkan
Tega sekali membiarkanku memandangimu hari-hari
membuka pintu untuk ditutupi
Tega sekali…membiarkanku mati diregang
api rasaku sendiri…
tega sekali
(Rabu, 18 Feb 2009, 11.59 pm)


MENEROPONG MALAM
malam
kosong
sepi
tempat ku berkabut dgn buku2 lama
mari perjuangkan yg hilang
gelapkan seperti malam
usah dikenang
bahkan ketika pulang
ke depan..
kau akan tau betapa dalam…
meneropong malam..
kelam tak berkesudahan…
kau, dia..adalah pagi dan siang
dan aku ditakdirkan menjadi malam..
meneropong malam…gelap dan sia-sia…
(Sabtu, 14 February 2009 11:23pm)


K.O.Y.A.C
apakah yang menyebabkan duniaku berwarna
apa nan membuatku tak peduli pendapat dunia
apakah yang memengaruhiku menikmati muram durja
apa nan membulatkan tekadku utk mengejar mimpi-mimpi
kamu…jawabku
tapi kau tak sudi apalagi peduli
ruang segala ruang…
sudilah kutempati apa yang awal dan apa nan akhir
kamulah yang awal dan tak akan pernah berakhir
di ruang ini
kembali jangan pergi
karena kepergian tak akan pernah kembali
rancu langkahku karena jujur jiwaku
ubah polahku karena begitulah rindu menipu
siapa sudi merajut hati nan pilu
kalau bukan engkau
jawabku…
kembali jangan pergi
karena menanti adalah suatu hal yang menyakitkan hati
apa yang menyebabkanmu begini
kalau bukan aku tempat segala khilaf berlabuh
(Sabtu, 14 Feb 2009, 12.12 am)



MEMOAR YANG HILANG
Siapa yang meminta menyimpan sekian lama…
sudah kau tanam.
kemudian tumbuh
kembang
lalu hilang….
(Kamis, 12 Feb 2009, 02.31 PM)

Earning Disclaimer : Sebagian foto dalam artikel disitus ini diambil dari berbagai sumber situs Web internet untuk kepentingan ilustrasi tanpa bermaksud untuk mengkomersialisasi. Hak sepenuhnya ada di situs web sumber gambar tersebut. Sedangkan konten musik yang diposting dalam situs ini semata hanya untuk tujuan promosi. Di situs ini juga ada Spanduk dan Iklan. Jika Anda mengklik atau membeli produk tertentu melalui tautan dari situs web ini, Maka kami memperoleh sebagian kecil komisi, tanpa biaya tambahan untuk Anda.Pendapatan tersebut digunakan untuk menjaga situs web ini terus eksis. Admin