ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS

Foto Ilustrasi dari Google
Bertolak dari pemahaman pribadi tentang siapa dan bagaimana Allah yang pantas untuk dimiliki orang Papua, maka Allah yang patut ditaati orang Papua adalah Allah yang komunis.

Kata "komunis" memang sangat antipati di Indonesia dan di sejumlah negara yang menganut paham demokrasi Liberal, karena mereka terlanjur menelan isu mentah yang direkayasa oleh AS demi kepentingan proyek ekspansi ekonomi bagi negara-negara Blok Barat. Karena itu, di Indonesia ada PKI buatan AS melalui Inggris yang waktu itu berkuasa di Malaysia dan TNI-AD sayap Soeharto yang pernah di didik SESKOAD-nya Amerika Serikat.
Padahal arti komunis sesungguhnya ialah suatu kelompok masyarakat yang mempraktekkan kehidupan komunal. Kehidupan komunal menuntut adanya kebersamaan, persaudaraan, kesatuan, persatuan, kesetaraan, yang saling membagi kasih kepada satu sama yang lain. Maka secara sosial dan ekonomi, pandangan ini berusaha menghapus hak milik individu demi kepentingan bersama dengan kekecualian bahwa urusan pribadi tetap dihargai dan di dukung negara yang disebut dengan komunis sosialis itu.

Memang dalam pandangan Marx Muda, telah dibelokkan maksud Marx Tua, sehingga seorang istri sekalipun terkesan milik bersama. Maka saya maksudkan "Allah Komunis" tentu saja bertolak dari pemikiran Marx Tua. Marx Tua berusaha memperkenalkan paham demokrasi yang murni bahwa kesetaraan, kebersamaan, persaudaraan akan menciptakan kesejahteraan bila semua sumber ekonomi dikuasai negara dan semua hal yang berkaitan dengan kekuasaan berakar pada rakyat. Dengan demikian, keputusan negara adalah keputusan rakyat, bukan pemerintah.

Pemerintah hanya menjalankan keputusan rakyat, karena pemerintah dipilih dari rakyat, oleh rakyat, dan bekerja untuk kepentingan rakyat dengan menerima upah yang setimpal dengan bobot kerjanya. Pandangan ini sebetulnya sangat kristiani betul jika diteliti dari sejarah lahirnya pandangan Marxisme di sejumlah negara di Eropa. Meskipun pandangan Marxisme Tua lebih pada kehidupan sosial ekonomi secara horizontal semata, karena itu agama bagi Marx adalah racun yang mematikan perjuangan dengan akal sehat, tetapi bukan berarti dia menyangkal eksistensi Allah. Baca Juga : YESUS, SANG GURU REVOLUSIONER YANG SOSIALIS!

Allah bagi Karl Marx Tua adalah Allah komunis. Allah yang harus diwartakan melalui praktek kehidupan komunal yang adil dan benar. Lantas, apa bedanya tuntutan hidup konkrit dari marxisme dengan Teologi Kristiani. Dengan istilah dan gaya yang berbeda, apa yang dituntut oleh kedua pihak adalah sama, yaitu kebersamaan yang saling membagi kasih. Jika kita melihat Teologi Paulus dalam surat-suratnya, lebih menekankan unsur kesatuan dengan Allah secara pribadi dan kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sosial di masyarakat.

Oleh karena itu, ada istilah iman pribadi dan iman sosial. Iman pribadi menyangkut hubungan pribadi yang dibangun seseorang dengan Allah secara mendalam dan kemudian dapat di praktekannya lewat hubungan sosialnya di masyarakat. Dengan demikian, ada tuduhan bahwa komunis adalah ajaran hitam, tak ber-Tuhan, bejat, tidak menghargai hal milik pribadi adalah isu proyek negara Blok Barat di bawah pimpinan AS.

Demi kepentingan menguasai wilayah pemasaran dan bahan baku di negara-negara yang punya kekayaan alamnya bagi produk-produk AS dan sekutunya (Blok Barat), maka isu komunis harus direkayasa sedemikian rupa untuk mengalahkan negara-negara Blok Timur yang punya paham komunis sosialis. Semua negara termasuk Indonesia menjadi takut, lalu menolak komunisme dan menerima liberalisme ala negara-negara Blok Barat. Akibatnya, Soekarno harus ditolak oleh rakyatnya sendiri dengan tuduhan komunis yang dikonotasikan oleh TNI-AD melalui media massa kepada seluruh kyai dan para tokoh agama lain di Indonesia. Baca Juga : RATAPAN ORANG PERCAYA DI PEMBUANGAN

Untuk membuktikan kebenaran bahwa komunis adalah jahat dan anti Tuhan, maka TNI-AD harus menciptakan peristiwa PKI di Madiun, G 30 S PKI di Bogor, Jawa Barat dll, agar komunis memang benar-benar ditolak oleh rakyat Indonesia. Ternyata, upaya tersebut telah berhasil dilakukan TNI-AD dibawah pimpinan Jenderal Soeharto atas dukungan Inggris dan AS yang mewakili negara-negara Blok Barat yang berwatak kapitalis alias anti demokrasi yang diperjuangkan oleh komunisme.

Kapitalisme menolak demokrasi yang menuntut hak ulayat, pemberdayaan budaya, adat-istiadat, dan HAM sebagai bagian dari orientasi pemberdayaan ekonomi rakyat yang berakar pada Marxisme. Itu akan menjadi mimpi buruk dan buang-buang uang, karena kapitalisme hanya mengenal hukum: meningkatkan modal sebesar-besarnya demi pengembangan perusahaannya. Pada konteks ini, agama dan kemanuasiaan dibutuhkannya sebatas jalan masuk kepentingan ekspansi ekonominya di wilayah yang masyarakatnya agamis. Oleh karena itu, negara-negara kapitalis pada prinsipnya boleh beragama tetapi menolak komunisme.

Agama bagi mereka bukan lembaga yang melindungi kehidupan beriman umat Allah, tetapi lebih pada institusi yang mengurus kepentingan kekuasaan dan kaum bermodal di atas penderitaan kaum miskin dan tak berdaya. Makanya, jangan heran ketika agama di Indonesia lebih mengurus kepentingan kelompok politik, ekonomi, ideologi, ketimbang membelah kaum tertindas sebagai perwujudan imannya.

Para pastor, pendeta, di Papua dan Indonesia pada umumnya tidak pernah berbicara banyak untuk membelah rakyat Papua dan daerah-daerah lain di Indonesia. Mereka lebih sibuk urus agama, tetapi sengaja melupakan ajaran iman yang menuntut kebersamaan dan persaudaraan yang aktif dan menyelamatkan. Karena itu, pantas pulalah para tokoh agama sejak dulu sampai saat ini anti komunisme di Indonesia. Dari pemikiran diatas, jelaslah bahwa siapa yang membenci komunisme secara sadar dan tahu arti komunisme sebenarnya mengkhianati imannya sendiri.

Bangsa ini telah mengkhianati Allah ketika tahu dan sadar komunisme yang pernah ada di Indonesia adalah komunisme yang direkayasa kapitalisme internasional. Lantas, patut dipertanyakan bahwa apa masuk akal jika komunisme dan kapitalisme sama-sama dibenci oleh sebagian besar orang Indonesia? Lihat : SOSIALISME DAN MANUSIA DI KUBA

Lebih baik, orang Papua menjadi komunis ketimbang hidup beragama. Karena hidup komunal lebih beriman, ketimbang beragama yang selalu hidup di atas masalah fanatisme demi kepentingan kekuasaan dan uang. Iman itu soal kesatuan personal dengan Allah dan musti diwujudkannya dalam kehidupan yang konkrit di masyarakat. Karena iman tanpa perbuatan adalah mati. Itulah Allah komunis, Allah Papua yang menuntut kehidupan komunal: persaudaraan, kebersamaan, kesatuan dan persatuan untuk mewujudkan Papua Yang Merdeka.

Jadi, Allah Papua adalah Allah komunis, bukan Allah yang beragama. Sejak jemaat awal Tuhan tidak pernah mendirikan Gereja institusi, kecuali Gereja umat Allah. Apalagi mendirikan agama, sama sekali nihil. Itu urusan insani, bukan urusan Illahi. Allah yang terinkarnasi dalam manusia Yesus dari Yahudi itu hanya menuntut hubungan baik dengan-NYa dan hidup bersama sebagai saudara Kristus dari satu Allah Bapa di Surga. Itulah tawaran hidup dari Allah Komunis.***
Advertisement
ads here

2 Comments

Hati-hati saudaraku orang Papua... Tulisan ini punya kepentingan yang berbahaya! Waspada!

Waspadai bahaya laten Koomunis, maksudnya begitu?
Maaf sisbro, saya tidak punya kepentingan apa - apa dalam hal ini.


EmoticonEmoticon